Status tanggap darurat bencana di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, resmi diperpanjang. Pemerintah setempat memutuskan untuk melanjutkan masa siaga hingga 13 Desember 2025 mendatang. Ini bukan keputusan yang diambil sembarangan, melainkan setelah melihat betapa parahnya dampak yang ditinggalkan bencana hidrometeorologi akhir November lalu.
Sekretaris Daerah Padang Pariaman, Rudy Repenaldi, mengonfirmasi hal ini.
"Kami perpanjang sampai 13 Desember," ujarnya, seperti dilaporkan Antara, Rabu (10/12).
Sebelumnya, status darurat hanya berlaku dari 23 November hingga 6 Desember. Tapi kondisi di lapangan ternyata jauh lebih kompleks. Pencarian untuk satu korban yang masih hilang terus dilakukan, sementara kebutuhan dasar warga, perbaikan jalan dan jembatan yang putus, serta upaya memulihkan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat masih memerlukan kerja ekstra.
Bencana yang melanda selama seminggu penuh itu benar-benar menghantam. Tak tanggung-tanggung, 17 dari total kecamatan di Padang Pariaman merasakan dampaknya. Ada 80 titik banjir dengan air setinggi lutut orang dewasa hingga empat meter, disusul 72 kejadian longsor dan 37 titik angin kencang yang merobohkan apa saja.
Gambaran korbannya pun cukup memilukan. Lebih dari 34 ribu jiwa terdampak, dengan hampir lima ribu orang terpaksa mengungsi. Hingga kini, rasa aman masih sulit didapat. Sekitar 377 jiwa atau 115 kepala keluarga masih bertahan di posko pengungsian karena rumah mereka hancur atau hanyut.
Korban jiwa berjatuhan. Tercatat tujuh orang meninggal dunia dan sebelas lainnya luka-luka. Satu orang masih dicari hingga berita ini diturunkan. Yang cukup mengerikan, di aliran Sungai Batang Anai ditemukan 36 jenazah yang hanyut dan diketahui bukan berasal dari warga Padang Pariaman, menunjukkan betapa luasnya jangkauan bencana ini.
Kerugian materialnya? Sungguh fantastis. Estimasi sementara mencapai Rp 967,8 miliar. Angka itu muncul dari rusaknya 4.842 unit rumah, dengan 66 di antaranya bahkan hanyut tak bersisa. Infrastruktur publik pun tak berkutik: puluhan sekolah dan rumah ibadah rusak, dua fasilitas kesehatan dan kantor pemerintah hancur, ditambah 28 ruas jalan porak-poranda serta 38 jembatan yang putus atau rusak berat. Belum lagi jaringan irigasi dan bendungan yang ikut menjadi korban, mencapai 68 titik.
Di sektor pertanian, kerusakannya bisa dibilang menghancurkan harapan panen. Lebih dari 1.145 hektare sawah terendam, ratusan hektare kebun rusak, puluhan tambak hancur, dan yang paling memilukan, lebih dari 14 ribu ekor ternak mati atau hanyut terbawa arus.
Dengan situasi seperti ini, peringatan pun terus disuarakan. Pemerintah meminta warga untuk tetap waspada. Cuaca ekstrem masih mungkin datang, dan Padang Pariaman jelas belum sepenuhnya pulih.
Artikel Terkait
Hubungan Merz-Trump Retak Akibat Perang Iran: AS Tarik 5.000 Tentara dari Jerman
BNN Lantik 3.717 Pelajar dan Guru di Jakarta Sebagai Duta Anti Narkoba
Jisoo BLACKPINK Dituduh Desainer Belgia Tak Kembalikan Busana Senilai Ratusan Juta
Anggota DPRD Pandeglang Laporkan Pengusaha ke Polisi atas Dugaan Penipuan Rp400 Juta