Natal Bersama Kemenag: Sebuah Langkah Historis di Tengah Ribuan Umat di Senayan

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 22:20 WIB
Natal Bersama Kemenag: Sebuah Langkah Historis di Tengah Ribuan Umat di Senayan

Malam Sabtu di Senayan terasa berbeda. Ribuan orang memadati lapangan dan tribun Stadion Utama Gelora Bung Karno, bukan untuk menyaksikan pertandingan sepak bola, melainkan untuk merayakan Natal Tiberias 2025. Suasana khidmat bercampur sukacita terasa jelas, bahkan menjalar hingga ke luar pagar stadion.

Di tengah perhelatan itu, Menteri Agama Nasaruddin Umar hadir dan menyampaikan sebuah pengumuman yang cukup mengejutkan. Dalam sambutannya, dia mengungkapkan bahwa Kementerian Agama akan menggelar perayaan Natal bersama.

"Kementerian Agama, Bapak Ibu sekalian, besok ini, insyaallah kita pun juga akan melaksanakan Natal bersama," ujar Nasaruddin.

Dia menekankan, acara tersebut akan menjadi yang pertama kalinya sejak Indonesia merdeka. Sebuah langkah historis dari institusi yang selama ini lebih sering diasosiasikan dengan urusan agama mayoritas.

Menurutnya, inisiatif ini adalah bentuk konkret meruntuhkan sekat-sekat di antara anak bangsa. Baginya, keberagaman Indonesia ibarat sebuah lukisan Tuhan yang sangat indah. Nilai itu, katanya, tidak boleh dirusak oleh ketidakharmonisan.

"Kita tidak boleh ada sekat-sekat, teman-teman. Jangan karena perbedaan agama atau aliran membuat kita itu berbeda," tegasnya.

"Sebuah lukisan yang indah, tidak ada artinya bingkainya emas kalau lukisannya tidak indah. Apa arti sebuah bingkai? yang penting lukisannya sangat indah."

Kembali ke acara inti, perayaan di SUGBK sendiri sudah dimulai sejak pukul enam kurang beberapa menit. Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme jemaat yang luar biasa. Lapangan hijau biasanya tempat para atlet berlari, kini dipenuhi oleh umat yang hendak memuji Tuhan. Tribun pun tak luput dari kepadatan.

Yang menarik, gelombang semangat itu ternyata meluap. Banyak jemaat yang rela berdesakan di luar stadion, menyaksikan jalannya ibadah melalui layar-layar besar yang dipasang panitia. Meski tak mendapat tempat di dalam, mereka tetap khusyuk. Wajah-wajah penuh sukacita tetap terpancar jelas di bawah langit Jakarta yang sudah gelap.

Malam itu, di Senayan, bukan hanya sebuah perayaan keagamaan yang berlangsung. Tapi juga sebuah potret nyata tentang bagaimana kebersamaan, dalam segala perbedaannya, bisa dirayakan dengan penuh khidmat dan kegembiraan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler