Kenaikan Harga Ayam & Telur Disebut Tanda Sukses Program MBG, Netizen Geram

- Senin, 03 November 2025 | 09:40 WIB
Kenaikan Harga Ayam & Telur Disebut Tanda Sukses Program MBG, Netizen Geram

Harga Ayam dan Telur Naik, Zulhas: Tanda Program MBG Berhasil

Kenaikan harga ayam dan telur di pasaran memicu reaksi keras dari netizen. Salah satu komentar pedas datang dari akun X @nanas14z yang menyatakan kekecewaannya sebagai ibu rumah tangga.

Data terbaru menunjukkan inflasi harga pangan bergejolak (volatile foods) mencapai 6,44% year on year (yoy) per September 2025. Kenaikan ini jauh melampaui target inflasi umum pemerintah sebesar 2,5 plus minus 1%.

Penyebab Kenaikan Harga Pangan

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut-sebut menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga pangan. Tingginya permintaan bahan pangan untuk program ini berdampak pada kenaikan harga di pasaran.

Tanggapan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), justru memandang kenaikan harga ini sebagai indikator positif. Dalam pernyataannya di Festival Ekonomi dan Keuangan Digital Indonesia & Indonesia Fintech Summit 2025 di JCC, Jakarta, Zulhas menjelaskan:

"Kita mengejar makan bergizi (MBG) 'kan. Perlu jutaan telur, perlu jutaan ayam. Dampaknya memang agak-agak naik," ujarnya.

Zulhas menegaskan bahwa kenaikan harga tersebut justru membuktikan keberhasilan program MBG. "Karena memberi makan banyak sekali penerima manfaat MBG. Sehingga harga telur naik sedikit, ayam naik sedikit. Tentu dampaknya artinya program ini berhasil," katanya.

Reaksi Masyarakat Terhadap Kebijakan Pangan

Pernyataan Zulhas menuai berbagai tanggapan dari masyarakat. Banyak netizen yang menyoroti dampak kenaikan harga terhadap daya beli masyarakat kecil, terutama ibu rumah tangga yang harus mengatur anggaran belanja keluarga.

Isu kenaikan harga pangan ini terus menjadi perhatian publik, terutama dalam menjaga keseimbangan antara program pemerintah dan daya beli masyarakat. Efektivitas Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan dampaknya terhadap inflasi masih menjadi bahan perdebatan berbagai pihak.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler