Musim kemarau yang melanda Kalimantan Timur membuat Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai Barat menyusut. Kondisi ini memunculkan hamparan pasir di sejumlah bagian sungai, sekaligus mengganggu jalur transportasi air yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian masyarakat.
Sungai sepanjang 920 kilometer itu merupakan sungai terpanjang kedua di Kalimantan setelah Sungai Kapuas yang membentang 1.143 kilometer. Selain menjadi habitat pesut Mahakam yang terancam punah, sungai ini juga menjadi jalur utama pengangkutan hasil tambang dengan kapal tongkang yang hampir setiap hari melintas.
Pantauan di lokasi pada Selasa (18/8) menunjukkan hamparan pasir di kawasan Melak Ilir kini dimanfaatkan warga sebagai tempat rekreasi. Hampir setiap sore, anak-anak hingga orang dewasa datang untuk bermain, berenang, atau sekadar bersantai. Sebagian dasar sungai yang dangkal juga mulai terlihat, bahkan kapal atau perahu nelayan yang karam di dasar sungai kini tampak jelas.
"Kalau air sungai mulai surut, pasirnya jadi kelihatan luas. Anak-anak biasanya datang sore hari untuk bermain dan berenang," kata Medot, warga Kutai Barat, Selasa (18/8).
Menurutnya, kawasan tersebut mulai ramai terutama pada sore hari. Warga datang bersama keluarga untuk menikmati suasana di tepian Mahakam. "Sekarang suasananya seperti pantai. Warga datang bukan hanya untuk berenang, tapi juga duduk-duduk menikmati sore," ujarnya.
Berkah bagi Pedagang
Meningkatnya aktivitas warga di kawasan tersebut juga menguntungkan pedagang lokal. Keramaian pengunjung membuat aktivitas jual beli makanan dan minuman ikut meningkat. Warga yang datang untuk bermain maupun bersantai biasanya membeli makanan dan minuman dari pedagang di sekitar lokasi.
Dhea, seorang warga Kutai Barat, mengatakan kawasan tersebut kini lebih ramai sejak hamparan pasir mulai terlihat. "Sejak pasirnya mulai muncul, sore hari memang lebih ramai. Banyak warga datang untuk bersantai dan anak-anak bermain air," kata Dhea.
Di balik ramainya warga yang berkunjung, kondisi kebersihan kawasan masih menjadi perhatian. Sejumlah sampah terlihat berserakan di sekitar lokasi yang digunakan masyarakat untuk bermain dan bersantai. Warga berharap kawasan tersebut mendapat perhatian lebih, terutama jika terus dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi. "Kalau bisa tempat ini lebih diperhatikan, terutama kebersihannya, karena masih ada sampah yang berserakan," kata Dhea.
Meski menjadi tempat bermain, warga tetap perlu memperhatikan keselamatan, terutama ketika anak-anak berenang di Sungai Mahakam. Surutnya permukaan air tidak serta-merta membuat kondisi sungai aman. Perubahan kedalaman, arus, serta kondisi dasar sungai tetap perlu diwaspadai.
Kapal Penumpang Tak Bisa Melintas
Surutnya debit Sungai Mahakam juga berdampak pada jalur transportasi masyarakat dan distribusi logistik dari Kabupaten Kutai Barat (Kubar) menuju Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kutai Barat Rita Nursandy mengatakan, kapal hanya mampu menjangkau wilayah tertentu, salah satunya Long Iram.
Menurutnya, penyusutan debit Sungai Mahakam membuat sejumlah titik alur sungai semakin sulit dilalui kapal berukuran besar. "Kalau kapal motor yang mengangkut barang dan penumpang dari Samarinda, saat ini hanya sampai Long Iram. Tidak sampai Mahulu karena sudah tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan," ujar Rita saat dikonfirmasi, Selasa (18/8).
Ia mengatakan kondisi alur sungai yang semakin dangkal bahkan membuat bebatuan di dasar sungai mulai muncul. Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala utama bagi kapal untuk melanjutkan perjalanan menuju wilayah hulu.
Kapal Besar Juga Tak Bisa Melintas
Surutnya Sungai Mahakam tidak hanya berdampak terhadap kapal penumpang dan pengangkut barang. Kapal berukuran besar, termasuk tongkang, juga disebut sudah tidak memungkinkan melintasi sejumlah bagian sungai menuju Mahulu. "Kalau tongkang, jelas tidak bisa. Bisa sangkut," kata Rita.
Menurutnya, kondisi tersebut semakin terasa dalam satu hingga dua pekan terakhir. Meski penyusutan air telah terjadi sekitar satu bulan, kondisi sungai disebut semakin parah dalam sepekan terakhir. Berdasarkan prediksi musim kemarau yang dirilis BMKG Samarinda, musim kemarau di wilayah Kutai Barat dan Mahakam Ulu berlangsung pada Juni hingga Agustus 2026.
Beralih ke Jalur Darat
Terbatasnya pelayaran di Sungai Mahakam membuat distribusi logistik menuju Mahulu harus menyesuaikan kondisi. Rita mengatakan jalur darat kini menjadi salah satu alternatif yang semakin banyak digunakan. Kondisi musim kemarau membuat akses jalan relatif lebih mudah dilalui. "Kalau transportasi sungai tidak bisa dilewati, otomatis lewat darat. Apalagi musim kemarau seperti sekarang, tidak hujan sehingga jalan tidak becek," jelasnya.
Namun, jalur darat juga memiliki sejumlah kendala. Infrastruktur jalan menuju wilayah Mahulu masih dalam proses perbaikan. Rita menyebut perbaikan sejumlah ruas jalan nasional di Kutai Barat dilakukan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) dengan dukungan anggaran pemerintah pusat.
Rita mengatakan transportasi di wilayah Kutai Barat dan Mahulu pada dasarnya bertumpu pada tiga jalur, yakni darat, sungai, dan udara. Namun, untuk distribusi barang dalam jumlah besar, jalur sungai selama ini memiliki peran penting. "Urat nadi perekonomian kita selama ini di Kalimantan Timur lebih banyak melalui transportasi sungai," ujarnya.
Sementara itu, transportasi udara dinilai lebih memungkinkan untuk mobilitas penumpang. Pengangkutan barang dalam jumlah besar melalui jalur tersebut bukan menjadi pilihan utama.
Artikel Terkait
Anak-Anak Manfaatkan Kemarau untuk Berenang di Kali Ciliwung
BMKG: 73,8 Persen Wilayah Indonesia Masuk Musim Kemarau
BMKG: Agustus Jadi Puncak Musim Kemarau di Sebagian Besar Wilayah Indonesia
Sungai Ciliwung Surut, Warga Manfaatkan Jadi Tempat Bermain Anak