Fitriana, 11 tahun, tersenyum dari gendongan ibunya. Meski kepalanya membesar akibat hidrosefalus yang dideritanya sejak lahir, gadis kecil itu tetap ceria. Sang ibu, Haryanti, juga tegar. Baginya, Fitriana adalah semangat hidupnya.
Hidrosefalus adalah kondisi penumpukan cairan serebrospinal di dalam otak yang menyebabkan ukuran kepala membesar. Haryanti menceritakan, sejak lahir kepala putrinya sudah membesar, namun kondisi ekonomi keluarganya tidak memungkinkan untuk melakukan operasi. Ia berjualan cilor maklor, sementara suaminya bekerja sebagai tukang bangunan. Penghasilan mereka hanya cukup untuk makan sehari-hari dan kebutuhan kedua anaknya.
"Saya saja operasi melahirkan secara sesar itu utang. Di sisi lain kalau harus operasi untuk anak saya yang mengalami hidrosefalus tidak ada biaya, karena di tahun itu belum punya BPJS Kesehatan," katanya kepada kumparan, Senin (10/8).
Selain kendala biaya, pada tahun 2015 itu ia juga khawatir jika putrinya dioperasi. Sehingga ia tidak memilih jalan medis untuk buah hatinya. Baru pada tahun 2024, ia mencoba menanyakan ke dokter soal operasi. Namun, takdir berkata lain. "Kata dokter, cairan yang ada di kepala putri saya sudah membeku dengan otak. Sehingga tidak bisa dilakukan tindakan operasi," terangnya.
Kini, kondisi Fitriana tumbuh dengan kepala yang besar. Meski begitu, ia masih bisa makan dan berkomunikasi. Bedanya, ia tidak bisa duduk. Kesehariannya dihabiskan dengan berbaring di atas kasur. Saat makan, ia harus disuapi. Saat mandi, ia digendong orang tuanya. "Kalau mandi saya gendong sambil saya letakkan di bak mandi bayi. Tangan kiri saya untuk menopang kepalanya. Sedangkan tangan kanan untuk memandikan," ujar Haryanti.
Meski kondisinya berbeda, Haryanti merasa putrinya masih normal. Komunikasinya tidak ada masalah. Bahkan Fitriana sering memberi semangat. "Dia sering memberi semangat ke saya ketika mau berjualan. Saya doakan ibu banyak yang beli jualannya. Dia selalu begitu. Kalau saya sedang ada masalah, dia memberi semangat. Pokoknya Fitriana ini semangatku dan saya tetap bersyukur," ucapnya.
Haryanti mengakui kondisi perekonomiannya kadang tak menentu. Suaminya bekerja ketika ada orderan saja. "Untuk makan sehari-hari ya seadanya. Hal terpenting anak-anak kebutuhannya terpenuhi. Seperti Fitriana ini dia butuh jajan, susu, dan pampers."
Soal bantuan, Haryanti sudah menerima Program Keluarga Harapan (PKH). Namun, ia berharap rumahnya bisa mendapatkan program bedah rumah. "Semoga ke depannya bisa mendapatkan program bedah rumah. Rumah saya dindingnya sudah retak dan kamar Fitriana kalau hujan bocor," ucapnya.
Hari ini, Haryanti dan Fitriana mengikuti kegiatan Pengukuran, Perakitan, Pengepasan dan Penyerahan Kursi Roda dan Kaki Tangan Palsu Bagi Penyandang Disabilitas di aula Kantor Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Fitriana menerima kursi roda adaptif. "Alhamdulillah hari ini dapat bantuan kursi roda untuk anak saya sehingga bisa untuk aktivitas sehari-hari," imbuhnya.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk Yayasan Global Village Foundation Bali, Australian Consulate-General, Dinas Provinsi Jawa Tengah, Dinas Sosial P3AP2KB Kabupaten Kudus, dan Forum Komunikasi Disabilitas Kudus (FKDK). Kursi roda adaptif ini ditujukan untuk anak disabilitas penderita Cerebral Palsy, gangguan saraf permanen yang menyebabkan kelainan tulang belakang seperti skoliosis, kifosis, dan lordosis.
Ketua FKDK Kudus, Rismawan Yulianto, mengatakan ada 15 disabilitas asal Kudus yang menerima kursi roda ini, dan sepuluh lainnya dari daerah sekitar. "Pemberian kursi roda ini membantu adik-adik disabilitas yang lumpuh akibat Cerebral Palsy agar bisa dimudahkan mobilitasnya," katanya.
Sekretaris Yayasan Global Village Foundation Bali, Komang Pastika, menjelaskan kursi roda ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan anak. "Adik-adik disabilitas yang tidak bisa duduk di kursi roda, bisa disetting jadi rebahan menyesuaikan bentuk tubuh adik-adik. Ada sabuknya juga supaya aman," katanya. Kursi roda ini juga dapat memperbaiki postur tubuh anak-anak dengan kelainan tulang belakang.
Selain untuk Cerebral Palsy, kursi roda adaptif ini juga bisa digunakan untuk pengidap polio, kelumpuhan lainnya, dan hidrosefalus seperti Fitriana. "Kursi roda ini bisa digunakan untuk pengidap hidrosefalus. Bagi pengidap hidrosefalus kan berat kalau menopang bagian kepala, maka kursi rodanya bisa disetting rebahan," terang Komang. Kursi roda ini mampu menampung beban maksimal 50 kilogram untuk usia 2-16 tahun.
Komang menambahkan, "Keberadaan kursi roda ini sebagai hak bagi anak-anak disabilitas agar mudah beraktivitas sehari-hari."
Artikel Terkait
Limbah Batok Kelapa Disulap Jadi Bra, Tembus Pasar Jamaika
Kasus Anak Curi Uang Ibu di Kudus Dihentikan, Sang Ibu Tak Tega Anaknya Dibui
Ayah di Demak Lapor Polisi soal Pria yang Merekam Anaknya di Toilet Masjid Kudus
Siswa Tunarungu di Kudus Beri Syal Batik Bermotif Menara Kudus untuk Mendikdasmen