Remaja 14 Tahun Tembak Kakek-Nenek dan Lima Guru di Thailand

- Sabtu, 08 Agustus 2026 | 07:40 WIB
Remaja 14 Tahun Tembak Kakek-Nenek dan Lima Guru di Thailand

Seorang remaja berusia 14 tahun di Thailand menembak mati kakek-neneknya di rumah, lalu melanjutkan aksinya di sekolah dengan menewaskan lima guru dan akhirnya bunuh diri. Insiden yang terjadi pada Jumat pagi, 7 Agustus 2026, di Provinsi Nonthaburi, yang berbatasan langsung dengan Bangkok, ini mengejutkan publik dan memicu kembali perdebatan tentang kontrol senjata di negara tersebut.

Korban tewas dalam peristiwa ini mencapai delapan orang, termasuk pelaku. Selain kakek (73) dan nenek (74) pelaku, lima orang guru atau staf sekolah menjadi korban di Debsirin Nonthaburi School. Satu korban tambahan meninggal di rumah sakit, sehingga total korban tewas menjadi delapan. Tidak ada siswa yang menjadi korban jiwa.

Menurut keterangan polisi, pelaku memulai aksinya di rumah dengan menggunakan pistol milik kakeknya. Setelah menembak kakek-neneknya, ia naik bus sekolah sambil membawa senjata dan puluhan butir peluru. Di sekolah, ia melepaskan tembakan yang menewaskan lima guru sebelum akhirnya mengarahkan senjata ke dirinya sendiri.

Investigasi dan Motif

Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, menyatakan bahwa pelaku diduga mengalami stres berat terkait studinya. Sahabat dekat pelaku juga mengonfirmasi tekanan mental tersebut kepada penyidik. Polisi menemukan bukti bahwa aksi ini direncanakan dengan matang. Dari pemeriksaan perangkat elektronik milik pelaku, diketahui bahwa ia kerap mencari dan menonton situs web tentang penembakan massal di Amerika Serikat beberapa hari sebelum kejadian.

Pistol yang digunakan adalah senjata api resmi yang terdaftar atas nama kakek pelaku. Pelaku bahkan sempat memamerkan foto senjata tersebut di akun Instagram pribadinya beberapa bulan sebelum insiden. Thailand memiliki tingkat kepemilikan senjata api tertinggi di Asia Tenggara, dan akses untuk mendapatkan senjata, baik legal maupun ilegal, relatif mudah.

Dampak dan Respons Pemerintah

Pihak Debsirin Nonthaburi School mengumumkan pembatalan seluruh kegiatan belajar mengajar dan menutup sekolah hingga akhir pekan depan. Sekolah-sekolah lain di sekitar area tersebut juga memulangkan siswa lebih awal demi keamanan.

Tragedi ini langsung memicu seruan untuk memperketat regulasi senjata api. PM Anutin Charnvirakul berkomitmen untuk memperkenalkan undang-undang pengendalian senjata api yang baru, yang hanya akan mengizinkan petugas pemerintah yang sedang berdinas untuk membawa senjata di tempat publik.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags