Mantan Tentara Israel Mengaku Trauma Usai Tembaki Warga Sipil Gaza

- Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:40 WIB
Mantan Tentara Israel Mengaku Trauma Usai Tembaki Warga Sipil Gaza

Seorang mantan tenaga medis tempur Israel mengaku dihantui rasa bersalah setelah terlibat dalam penembakan artileri yang menewaskan warga sipil di Gaza. Perempuan berusia 22 tahun yang hanya mau disebut Yael ini kini berjuang melawan gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang parah, sementara proses pengakuannya sebagai veteran penyandang disabilitas justru berlarut-larut.

Yael bergabung dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada Agustus 2022 dengan motivasi tinggi. Ia menjalani pelatihan tempur dan ditempatkan di batalion Korps Artileri, bertugas di pusat komando tembakan garis depan. Tugasnya, seperti diakuinya, adalah menghitung data penembakan, menyiapkan target, dan mengirimkannya kepada pasukan artileri.

Selama masa dinasnya di Gaza dan Lebanon, Yael membantu menembakkan ribuan peluru artileri. Namun, baru setelah keluar dari militer, ia menyadari dampak dari tindakannya. "Saya melihat foto-foto anak-anak yang tewas. Di militer, kami diberi tahu bahwa kami hanya membunuh teroris, tetapi itu bohong. Tembakan artileri tidaklah presisi," tuturnya.

Rasa bersalah itu terus menghantuinya. "Saya sering mengalami mimpi buruk. Bayangan anak-anak yang tewas dan ibu-ibu yang menangis terus muncul. Saya membayangkan bagaimana jenazah-jenazah itu dievakuasi. Bagaimana mungkin tidak? Saya telah membunuh anak yang tak berdosa; sayalah yang memasukkan data target itu," katanya.

Kondisi psikologis Yael memburuk setelah ia diberhentikan dari IDF. Seorang psikiater yang merawatnya menulis bahwa Yael menunjukkan gejala signifikan yang memenuhi semua kriteria diagnostik PTSD. Namun, proses pengakuan status PTSD-nya di Kementerian Pertahanan sempat tertahan berbulan-bulan. Akibatnya, ia hanya mendapat perawatan medis dasar tanpa tunjangan finansial atau bantuan kesejahteraan.

Kementerian Pertahanan baru mengubah statusnya beberapa jam setelah media Israel Haaretz mengajukan pertanyaan. Departemen Rehabilitasi kemudian menerima permohonannya setelah ditemukan hubungan sebab-akibat yang jelas antara kondisi mentalnya dan masa dinas militernya.

Kasus Yael menyoroti kegagalan militer dalam menangani tentara yang mengalami luka batin akibat perang. Sejak 7 Oktober, Haaretz telah berbicara dengan lebih dari 300 orang yang menderita gangguan kesehatan mental akibat perang. Banyak di antara mereka yang mengalami PTSD karena terpapar pertempuran intens, atau rasa bersalah mendalam akibat kematian rekan seperjuangan maupun warga sipil.

Seorang perwira di Direktorat Sumber Daya Manusia mengungkapkan bahwa banyak komandan yang cenderung menutup-nutupi masalah dan menjaga insiden tetap di lingkup internal unit. Hal ini membuat proses peninjauan peristiwa maupun verifikasi laporan menjadi sangat sulit.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags