Saat Idola Tersandung Korupsi: Antara Disonansi Kognitif dan Peran Media

- Sabtu, 01 Agustus 2026 | 10:06 WIB
Saat Idola Tersandung Korupsi: Antara Disonansi Kognitif dan Peran Media

Eksposur media yang intens terhadap pejabat publik dan politisi kerap menempatkan mereka pada posisi idola. Semakin sering tampil, semakin besar peluang dikenal dan memiliki penggemar. Namun, ketika satu per satu tokoh tersebut terjerat kasus korupsi, para penggemar dihadapkan pada dilema psikologis yang kompleks.

Menurut Lauren Beeching, konsultan manajemen komunikasi krisis, dalam artikelnya The Psychology of Obsession: Why Fans Fixate on Public Figures (2026), seseorang dijadikan idola karena dianggap mewakili sesuatu yang diidamkan, seperti kecantikan, kesuksesan, bakat, atau gaya hidup. Sosok idola menjadi simbol kenyamanan, stabilitas, atau identitas bagi para penggemarnya.

Konsep hubungan parasosial pertama kali diperkenalkan oleh Donald Horton dan R. Richard Wohl dalam Mass Communication and Parasocial Interaction (1956). Mereka menjelaskan bahwa interaksi antara audiens dan persona media sering menciptakan ilusi keintiman yang bersifat satu arah. Audiens yang menjadi fans rela menginvestasikan energi dan emosi untuk mengenal dan mencermati kiprah sang idola, menganggapnya sebagai panutan yang dekat secara emosional.

Penelitian Liebers dan Schramm (2019) dalam Parasocial Interactions and Relationships with Media Characters–An Inventory of 60 Years of Research menunjukkan bahwa hubungan parasosial dapat memengaruhi pandangan politik, perilaku konsumsi, dan sikap terhadap stereotip gender. Namun, bagaimana jika sang idola tiba-tiba tersandung kasus korupsi?

Fenomena ini terjadi di Indonesia akhir-akhir ini. Menteri, wakil menteri, kepala badan, sekjen DPR, anggota DPR, bupati, wali kota, kepala dinas, bahkan lurah, satu per satu terungkap keburukannya. Di belakang mereka ada sederet pendukung, tim sukses, atau setidaknya fans. Ketika sosok impian yang dulu tampil menawan kini tertunduk dengan tangan terbelenggu, bagaimana para fans menghadapi kenyataan ini?

Menurut psikolog sosial Leon Festinger, para fans ini mengalami apa yang disebut disonansi kognitif. Keadaan ketidaknyamanan mental yang ekstrem akibat dihadapkan pada dua keyakinan yang saling bertentangan: "Idola saya orang baik dan jujur" versus "idola saya seorang koruptor". Dalam bukunya A Theory of Cognitive Dissonance (1957), Festinger mengemukakan empat alternatif tindakan yang mungkin diambil.

Pilihan pertama, menjustifikasi atau membela sang idola. Ini respons paling umum dari fans fanatik. Mereka mencari narasi alternatif, seperti menuduh kasus tersebut sebagai kriminalisasi atau konspirasi politik. Pilihan kedua, meremehkan masalah. Fans mengakui kesalahan tetapi mengecilkan dampaknya, dengan argumen seperti "Bila dibandingkan dengan jasanya, kesalahannya hanya seujung jari".

Pilihan ketiga, menghindar dari informasi (selective exposure). Untuk menjaga kedamaian pikiran, fans menutup mata dan telinga dari kenyataan, misalnya berhenti menonton berita atau memblokir akun yang membahas kasus tersebut. Pilihan keempat, mengubah keyakinan dan menerima kenyataan. Ini yang paling berat dan radikal, karena fans harus mengubah pendirian 180 derajat dan menghadapi rasa bersalah telah mendukung sosok yang keliru.

Dari perspektif pemberantasan korupsi, pilihan keempat adalah yang paling tepat. Publik harus berani menerima bahwa idolanya bisa berbuat salah. Sikap penyangkalan justru akan memperlemah penanganan korupsi, apalagi jika dimanfaatkan terdakwa sebagai pembelaan.

Peran Media dalam Membingkai Berita

Media tidak hanya berperan memediasi munculnya penggemar, tetapi juga menentukan bagaimana fans mengatasi disonansi kognitifnya. Jack Lule dalam Daily News, Eternal Stories: The Mythological Role of Journalism (2001) menjelaskan bahwa berita tidak sekadar laporan fakta, melainkan juga medium untuk mengonstruksi nilai-nilai. Media mengemas berita sebagai mitos, yang menjadi rujukan pembaca dalam memahami realitas.

Lule mengidentifikasi tujuh pola atau arketipe yang digunakan media. Arketipe pertama adalah korban (victim), di mana subjek digambarkan menderita bukan karena kesalahannya. Kedua, kambing hitam (scapegoat), subjek dikorbankan untuk membersihkan dosa sosial. Ketiga, pahlawan (hero), subjek digambarkan luar biasa dan bekerja untuk kepentingan masyarakat. Keempat, ibu yang baik (good mother), subjek sebagai pelindung tanpa pamrih. Kelima, si penipu (trickster), simbol kejahatan yang cerdas dan licik. Keenam, sang liyan (the other), menonjolkan ancaman dari luar. Ketujuh, bencana (the flood), subjek sebagai bencana yang mengingatkan kerapuhan manusia.

Ketika skandal korupsi menimpa seorang idola, media akan membingkai berita mengikuti arketipe-arketipe ini. Misalnya, dengan menggambarkan sang idola sebagai pahlawan yang ternyata penipu, menggunakan judul dramatis seperti "Jatuhnya si Orang Paling Bersih" atau "Sepandai-pandai Memakai Kedok, Akhirnya Terbuka Juga".

Fans yang menolak realitas akan mengadopsi arketipe penyangkalan, seperti korban, kambing hitam, pahlawan, atau ibu yang baik. Sementara fans yang realistis akan mengadopsi arketipe trickster, karena dengan menerima bahwa idola adalah penipu, mereka dapat mengubah rasa bersalah menjadi pembelaan diri: "Saya adalah korban dari seorang penipu, seperti jutaan orang lain, dan media pun ikut tertipu".

Mengadopsi arketipe ini juga membantu fans menerima bahwa kebaikan yang ditunjukkan sang idola hanyalah topeng. Dengan demikian, mereka terhindar dari rasa bersalah dan mencapai semacam pencerahan: terungkapnya kasus korupsi menjadi momen penemuan kebenaran, dan narasi berubah dari rasa bersalah menjadi kesadaran untuk tidak tertipu lagi.

Namun, media sering menggunakan narasi the fallen hero (pahlawan yang tersandung) sebagai transisi menuju arketipe trickster. Dengan tetap mengakui prestasi dan dedikasi sang idola, fans dibantu menerima kenyataan secara bertahap. Kasus korupsi dibingkai sebagai tragedi keserakahan, dengan pesan bahwa bahkan orang terbaik pun bisa jatuh jika melanggar nilai kebenaran.

Apakah media kita telah mengadopsi pendekatan ini? Model Jack Lule dapat menjadi bekal untuk menilai. Dengan memahami cara media membingkai berita, kita dapat lebih kritis dan turut membantu pemberantasan korupsi.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags