Bursa calon Sekretaris DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan mulai menghangat. Ketua DPD I Golkar Sulsel terpilih, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), yang juga bertindak sebagai ketua formatur, masih menghimpun usulan nama-nama pengurus baru. Empat nama disebut IAS mengemuka untuk posisi strategis tersebut: Rahman Pina, Armin Mustamin Toputiri, Arfandy Idris, dan Andi Patarai Amir.
Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Makassar, Randhy Akbar, memetakan bursa sekretaris sebagai arena yang tidak semata ditentukan oleh senioritas. Menurut dia, tiap figur membawa modal yang berbeda dan sama-sama relevan untuk posisi yang akan menentukan ritme kerja organisasi.
Rahman Pina datang dengan modal loyalitas partai dan kekuatan elektoral yang teruji. Anggota DPRD Sulawesi Selatan periode 2024-2029 itu disebut memiliki pengalaman membangun karier dari bawah, disertai basis suara yang kuat di Makassar, terutama di wilayah Biringkanaya, Manggala, Panakkukang, dan Tamalanrea. Pada Pemilu Legislatif 2024, ia meraih 24.301 suara dari Dapil Sulsel 2.
"Rahman Pina juga pernah ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas Ketua DPD II Golkar Maros pada akhir 2020. Latar belakang akademiknya di bidang ilmu politik dinilai memperkuat kapasitas komunikasi politik, baik untuk konsolidasi internal maupun menghadapi ruang publik," ungkap Randhy.
Figur senior lain yang ikut diperhitungkan adalah Armin Mustamin Toputiri. Dalam pembacaan Randhy, Armin menempati posisi sebagai figur strategis yang kuat pada sisi konseptual dan pengalaman membaca arah partai. Senioritas dan pengaruhnya dalam dinamika internal Golkar Sulsel membuatnya dinilai mampu menjadi jangkar stabilitas jika formatur membutuhkan sekretaris yang berperan meredam tarik-menarik antar faksi.
Arfandy Idris, di sisi lain, dipotret sebagai kandidat dengan kekuatan pada aspek administratif dan tata kelola internal partai. Randhy menilai figur ini dikenal memahami aturan main organisasi, termasuk AD/ART dan prosedur legal-formal partai. Pengalaman tersebut membuat Arfandy dipandang sebagai opsi kuat apabila IAS membutuhkan sekretaris yang fokus memastikan mesin partai berjalan tertib secara manajerial.
Sementara itu, Andi Patarai Amir dinilai membawa kekuatan teritorial yang berbeda. Anggota DPRD Sulawesi Selatan periode 2024-2029 dari Dapil Sulsel 6 itu memiliki rekam jejak panjang di DPRD Maros, mulai sebagai anggota hingga pernah menjadi Ketua DPRD Maros pada periode 2019-2024. Ia juga pernah memimpin DPD II Golkar Maros pada 2016 hingga akhir 2020.
Dalam analisis Randhy, modal Patarai Amir tidak hanya terletak pada pengalaman legislatif, tetapi juga pada kemampuannya menjembatani komunikasi antara struktur provinsi dan kabupaten. "Dengan basis kuat di luar Makassar, ia dinilai dapat memberi nilai tambah bagi formatur jika Golkar Sulsel ingin menegaskan keseimbangan representasi wilayah dalam struktur baru," tambah Randhy.
Pemetaan atas empat nama itu menunjukkan bahwa bursa sekretaris Golkar Sulsel belum mengerucut pada satu poros tunggal. Di tangan IAS sebagai ketua formatur, pilihan sekretaris akan sangat ditentukan oleh kebutuhan struktur: apakah menekankan mesin elektoral, stabilitas internal, kerapian organisasi, atau jembatan komunikasi antardaerah.
Artikel Terkait
Ilham Arief Sirajuddin Terpilih Aklamasi Pimpin Golkar Sulsel
Bahlil Tugaskan Ilham Arief Sirajuddin Tingkatkan Kursi Golkar Sulsel
IAS Kembali ke Panggung Politik, Calon Tunggal Ketua Golkar Sulsel
IAS Kenakan Atribut Suku di Pengembalian Formulir, Tegaskan Kesetaraan di Golkar Sulsel