Setiap hari, anak-anak kerap berpapasan dengan orang-orang yang sama di sekitar lingkungan sekolah, seperti penjual jajanan di trotoar, pengemudi ojek pangkalan di dekat gerbang, atau pengemudi pribadi teman sekolah. Mereka mungkin tidak pernah berinteraksi, tetapi karena sering melihat wajah orang-orang tersebut, anak merasa sudah mengenalnya. Dalam psikologi sosial, fenomena ini disebut familiar stranger, yaitu orang asing yang terasa akrab karena sering terlihat.
Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh sosiolog Stanley Milgram pada 1972. Ia mendefinisikan familiar strangers sebagai orang-orang yang sering kita amati tetapi tidak berinteraksi. Penelitian selanjutnya menunjukkan bahwa familiar stranger memiliki tiga ciri utama: sering terlihat, dikenali, namun tanpa interaksi sosial.
Urgensi Memahami Familiar Stranger
Bagi orang dewasa, membedakan antara "saya mengenali orang itu" karena pernah melihatnya dan "saya mengenal orang itu" mungkin mudah. Namun, anak-anak, terutama usia SD ke bawah, belum tentu bisa membedakannya. Seorang anak bisa berkata, "Aku kenal bapak itu, sering di depan sekolah," padahal yang ia maksud adalah mengenali wajahnya, bukan mengenal identitasnya. Para ibu perlu menyadari bahwa perasaan familiar tidak sama dengan rasa aman.
Mengapa wajah yang sering terlihat bisa menimbulkan rasa aman? Jawabannya terletak pada mere exposure effect. Penelitian menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap suatu hal meningkatkan rasa suka dan keakraban. Ungkapan "tak kenal maka tak sayang" mencerminkan hal ini, tetapi perlu diingat bahwa familiaritas bukan bukti identitas atau karakter seseorang. Contohnya, politisi yang berkampanye berulang kali agar dikenal warganya, bukan berarti ia orang baik.
Anak-anak cenderung menilai orang dari penampilan. Ewing dkk. (2015) menemukan bahwa anak usia 5 dan 10 tahun lebih percaya pada orang dengan wajah yang tampak dapat dipercaya. Padahal, wajah bukan ukuran niat baik atau buruk seseorang. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak mengajarkan anak menilai baik-buruk seseorang dari penampilan, misalnya orang berbahaya digambarkan menakutkan atau berpakaian aneh. Sebaliknya, orang dengan wajah ramah pun belum tentu baik.
Familiar Stranger Bukan Berarti Berbahaya
Meski perlu diwaspadai, familiar stranger tidak selalu berbahaya. Belum ada bukti kuat yang mengaitkannya langsung dengan penculikan anak. Yang lebih perlu diwaspadai adalah false familiarity, ketika anak merasa mengenal seseorang hanya karena sering melihatnya, sehingga mudah percaya. Orang tua perlu mengingatkan anak bahwa sering melihat bukan berarti orang itu baik atau dapat dipercaya.
Di sisi lain, orang tua juga harus menghindari nasihat stranger danger yang menyatakan semua orang asing berbahaya. Tidak semua orang asing berniat jahat, bahkan orang yang dikenal pun bisa berbuat jahat. Lebih tepat mengajarkan anak tentang keselamatan diri, fokus pada perilaku dan situasi yang tidak aman, bukan pada status orang asing atau dikenal.
Apa yang Sebaiknya Diajarkan pada Anak?
Pertama, bantu anak membedakan situasi: "Aku pernah melihat dia", "Aku tahu siapa dia", dan "Ayah dan ibu mengenal dia dan percaya dia". Misalnya, anak mengenali wajah bapak yang setiap hari di depan sekolah, tetapi jika bapak itu memanggil namanya, bukan berarti ia dapat dipercaya karena bisa saja ia mendengar nama anak dari teman-temannya.
Kedua, buat aturan tegas: "Anak tidak pergi ke mana pun dengan siapa pun tanpa izin orang tua atau guru yang bertanggung jawab." Ketiga, ajarkan anak untuk menolak jika ada orang dewasa yang meminta bantuan, karena sewajarnya orang dewasa meminta tolong kepada orang dewasa lain, bukan kepada anak yang tidak dikenalnya.
Keempat, latih anak merespons situasi berbahaya dengan pola tolak-jauhi-ceritakan. Jika ada orang dewasa yang tidak dikenal, anak dilatih untuk mengatakan tidak, menjauh ke tempat aman seperti sekolah, lalu menceritakan kejadian itu kepada orang tua atau guru. Latihan sebaiknya dilakukan dalam situasi yang menyerupai keadaan nyata, karena anak usia 7-11 tahun berada pada tahap konkret-operasional menurut Jean Piaget, sehingga mereka belajar lebih efektif melalui pengalaman langsung.
Kesimpulannya, fenomena familiar stranger perlu diwaspadai karena berpotensi dimanfaatkan untuk kejahatan seperti penculikan, meski tidak selalu demikian. Yang terpenting adalah mengajarkan anak konsep keselamatan diri, bukan sekadar membedakan orang asing dan orang dikenal. Orang tua perlu memberikan pemahaman sekaligus pelatihan keterampilan menyelamatkan diri dalam situasi yang menyerupai nyata, sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Artikel Terkait
Tiga Posisi Membonceng Anak di Motor dan Risikonya