Pemerintah Kabupaten Badung resmi memulai pembangunan dua proyek infrastruktur strategis, yakni Jalan Lingkar Selatan (JLS) dan Shortcut Berawa–Umalas–Kedampang–Teuku Umar Barat. Mega proyek senilai lebih dari Rp2,9 triliun ini menjadi langkah nyata dalam mengatasi kemacetan, meningkatkan konektivitas antarwilayah, serta memperkuat daya saing pariwisata dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Ground breaking dilakukan oleh Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa bersama Gubernur Bali Wayan Koster, Wakil Bupati Badung Bagus Alit Sucipta, Ketua DPRD Badung I Gusti Anom Gumanti, serta Sekda Badung I.B. Surya Suamba. Prosesi ditandai dengan penekanan tombol sirine di lokasi pembangunan JLS Segmen 4 (Labuan Sait–Pedati) dan trase jalan Pura Kulat–Labuan Sait, Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Senin (27/7).
Dalam laporannya, Bupati Adi Arnawa menegaskan bahwa pembangunan jaringan jalan ini merupakan bagian dari strategi besar untuk membangun sistem konektivitas wilayah yang terintegrasi. “Pengembangan koridor di Kecamatan Kuta Selatan dan Kuta Utara dirancang membentuk jaringan jalan yang saling terhubung. Infrastruktur ini akan menghadirkan jalur alternatif, mengurangi beban lalu lintas pada ruas utama, serta meningkatkan aksesibilitas menuju kawasan permukiman, pusat pelayanan publik, destinasi pariwisata, hingga sentra pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Tahap awal pembangunan pada tahun 2026–2027 meliputi Jalan Lingkar Selatan beserta penataan Simpang Siligita dengan total panjang 10,89 kilometer, serta pembangunan Jalan Semer–Teuku Umar Barat sepanjang 4,77 kilometer. Seluruh proyek tersebut didukung investasi lebih dari Rp2,9 triliun.
Menurut Adi Arnawa, pembangunan jalan tidak hanya menjawab persoalan kemacetan yang selama ini menjadi keluhan masyarakat, tetapi juga menjadi fondasi pembangunan Badung dalam jangka panjang. “Kalau jaringan jalan ini sudah selesai dibangun, secara umum wilayah Badung akan dilintasi jalan-jalan besar yang saling terkoneksi. Saya yakin daya dukung pariwisata kita akan semakin meningkat, mobilitas masyarakat menjadi lebih lancar, dan pertumbuhan ekonomi akan bergerak lebih cepat,” ujarnya.
Bupati juga mengungkapkan bahwa seluruh proses telah dipersiapkan secara matang melalui studi kelayakan, penyusunan Detail Engineering Design (DED), penetapan lokasi, hingga proses pengadaan tanah yang dilakukan melalui musyawarah dengan masyarakat. Ia mengakui proses pembebasan lahan sempat menghadapi berbagai dinamika. Namun, melalui komunikasi yang intensif dan pendekatan persuasif, masyarakat akhirnya memberikan dukungan penuh. “Prinsipnya masyarakat gayung bersambut. Mereka sudah jenuh dengan kemacetan di Badung Selatan sehingga mendukung pembangunan ini. Karena itu kami berkomitmen menjalankan seluruh proses dengan tetap mengedepankan prinsip keadilan dan menghormati hak-hak masyarakat,” tegasnya.
Lebih jauh, Adi Arnawa memaparkan bahwa pembangunan Jalan Lingkar Selatan merupakan bagian dari rencana besar pembangunan jaringan jalan sepanjang hampir 30 kilometer di kawasan Badung Selatan. Sementara untuk wilayah Badung Tengah dan Utara, pemerintah juga telah menyiapkan pembangunan jaringan jalan sepanjang 52,95 kilometer yang akan direalisasikan secara bertahap hingga tahun 2029. Menurutnya, investasi infrastruktur akan memberikan dampak berantai terhadap peningkatan nilai kawasan, pertumbuhan investasi, pembukaan pusat-pusat ekonomi baru, hingga peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Kami optimistis pembangunan infrastruktur ini akan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi Badung. Ke depan, kemampuan fiskal daerah akan semakin kuat sehingga pembangunan dapat terus berlanjut secara mandiri tanpa bergantung pada pembiayaan dari luar,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster memberikan apresiasi atas langkah Pemerintah Kabupaten Badung yang merealisasikan proyek strategis tersebut. Menurutnya, pembangunan Jalan Lingkar Selatan merupakan solusi konkret dalam mengatasi kemacetan kronis di kawasan pariwisata Badung Selatan sekaligus menjaga kualitas pariwisata Bali. Gubernur juga menilai keputusan Pemkab Badung memanfaatkan dukungan pembiayaan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) merupakan langkah strategis agar pembangunan dapat dipercepat dan tidak terus terbebani kenaikan biaya konstruksi di masa mendatang.
Artikel Terkait
Pemkab Badung Mulai Bangun Dua Proyek Infrastruktur Rp2,9 Triliun untuk Atasi Kemacetan
Koster Buka Suara soal Komunitas Lari WNA di Canggu yang Diskriminasi WNI
Peletakan Batu Pertama PSEL Bali, Target Beroperasi Akhir 2027