Organisasi Kemahasiswaan (ORMA) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor menyatakan sikap menolak perilaku LGBTQ dan mendesak Pemerintah Kota Bogor segera menerbitkan Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang Pencegahan Perilaku Penyimpangan Seksual (P4S). Aspirasi itu disampaikan usai Seminar KAIFA Sesi 20 bertajuk "Edukasi Bahaya LGBT dan HIV/AIDS dalam Meningkatkan Kesadaran Moral dan Kesehatan Islami" di Aula FAI UIKA Bogor, Selasa (21/7/2026).
Pernyataan sikap dibacakan Dekan FAI UIKA Bogor, Prof. Dr. Imas Kania Rahman, bersama jajaran ORMA FAI. Mereka mendukung Wali Kota Bogor agar segera menerbitkan Perwali P4S yang, menurut amanah Perda No 10 tahun 2021, seharusnya terbit sejak pertengahan 2022. "Sehubungan dengan sikap tegas MUI yang menginginkan perilaku LGBT dipidana dan Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 yang menyebut budaya LGBT sebagai ancaman negara nonmiliter, maka untuk pencegahan bahaya kelompok sejenis di Kota Bogor, kami ORMA FAI UIKA selaku warga Bogor menolak LGBT dan mendukung Wali Kota Bogor untuk menerbitkan Perwali P4S sebagai aturan pencegahannya," tegas Imas.
Seminar yang diikuti pengurus organisasi mahasiswa FAI UIKA itu menghadirkan dua pemateri: Prof. Dr. Imas Kania Rahman dengan materi "Bahaya LGBTQ dan HIV serta Strategi dalam Menjaga Kesehatan Mental Islami Generasi Unggul Indonesia", dan Syaiful Falah dengan materi "Mewaspadai Gerakan LGBT di Indonesia".
Wakil Rektor UIKA Bogor, Dr. Hambari, Ph.D., dalam sambutannya mengatakan isu LGBT dan HIV/AIDS merupakan tantangan yang perlu dihadapi bersama. Ia menilai persoalannya bukan hanya kesehatan, tetapi juga berkembangnya pandangan yang menganggap perilaku LGBT sebagai sesuatu yang tidak bermasalah. "Kalau virusnya mungkin masih bisa diterapi, dikonseling, dan diobati. Tetapi yang lebih berbahaya adalah ketika muncul pemikiran yang mendukung LGBT atau menganggap LGBT bukan sebuah kesalahan. Ini menjadi tantangan besar yang harus kita hadapi bersama," ujarnya.
Hambari mengajak seluruh ORMA di lingkungan FAI UIKA untuk mendukung dakwah dan edukasi mengenai bahaya LGBT, baik melalui kegiatan langsung maupun media sosial. Ia juga meminta mahasiswa aktif meluruskan informasi yang keliru dan ikut menyebarluaskan edukasi kepada masyarakat. "Kalau belum mampu berbicara secara langsung, minimal ikut menyebarkan informasi yang memberikan pencerahan kepada masyarakat, baik secara daring maupun luring. Itu menjadi bentuk keberpihakan kita dalam upaya pencegahan LGBT yang saat ini sudah sangat mengkhawatirkan," katanya.
Wakil Dekan FAI UIKA, Dr. Yono, menyampaikan pentingnya menjaga lingkungan pergaulan sebagai bagian dari pembinaan karakter mahasiswa. Menurutnya, manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungan sehingga Islam memberikan tuntunan agar umat memilih lingkungan yang membawa kepada kebaikan. "Kalau kita ingin menghindari LGBT, maka harus dimulai dari menjaga pergaulan. Kita harus bergaul bersama orang-orang yang mendekatkan kita kepada Allah SWT dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik," ujarnya.
Ketua Panitia Seminar, Lutfi Tegar, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman komprehensif kepada mahasiswa mengenai pentingnya menjaga akhlak, moral, dan kesehatan berdasarkan nilai-nilai Islam. Ia berharap ORMA FAI UIKA dapat menjadi wadah pembinaan bagi mahasiswa agar terhindar dari berbagai bentuk penyimpangan moral. "Seminar ini diharapkan mampu meningkatkan wawasan mahasiswa mengenai pentingnya menjaga akhlak, menjaga kesehatan, serta menyikapi berbagai tantangan moral yang terjadi pada masa sekarang. Kita menghargai perbedaan, tetapi kita tidak bisa mentoleransi segala bentuk penyimpangan," tegas Lutfi.