Final Piala Dunia 2026 mempertemukan Spanyol dan Argentina, dua negara dengan ikatan sejarah yang mendalam. Di balik pertandingan, tersimpan narasi panjang tentang kolonialisme, migrasi, dan sepak bola yang saling terkait.
Argentina lahir dari koloni Spanyol, tepatnya dari wilayah Rio de la Plata yang berarti "Sungai Perak". Nama Argentina sendiri berasal dari bahasa Latin untuk "Tanah Perak". Selama berabad-abad, Spanyol menguasai hampir seluruh Amerika Latin, meninggalkan jejak bahasa, budaya, dan darah.
Setelah kemerdekaan pada awal abad ke-19, elite Criollo keturunan Spanyol yang lahir di Amerika mengambil alih kekuasaan. Mereka menerapkan kebijakan "pemutihan" dengan mendorong imigrasi kulit putih. Sekitar 6 juta imigran, setengahnya dari Spanyol dan setengahnya lagi dari Italia, membanjiri Argentina. Salah satu imigran Italia itu adalah Angelo Messi, kakek buyut Lionel Messi.
Kebijakan ini membuat Argentina dan Uruguay menjadi negara Amerika Latin dengan mayoritas penduduk kulit putih, berbeda dengan Brasil atau Meksiko. Penduduk asli dan Afrika terpinggirkan, bahkan dikirim ke medan perang.
Sepak Bola sebagai Jembatan
Hubungan Argentina-Spanyol semakin erat melalui sepak bola. Setelah Perang Dunia II, Spanyol yang kaya namun kekurangan talenta mendatangkan pemain dari Amerika Latin. Klub-klub Spanyol, terutama Barcelona dan Real Madrid, menjadi tempat lahirnya bintang Argentina seperti Alfredo Di Stefano, Diego Maradona, dan Lionel Messi.
Bahkan, Spanyol sempat menawarkan kewarganegaraan kepada pemain Argentina. Di Stefano menerimanya dan membela timnas Spanyol, sementara Maradona dan Messi tetap setia pada Argentina. Kini, Spanyol menjadi kekuatan sepak bola dunia, dan final ini mempertemukan "ayah" dan "anak" di lapangan hijau.
Bentrokan Ideologi
Di luar lapangan, pertandingan ini juga sarat muatan politik. Spanyol dipimpin Perdana Menteri Pedro Sanchez yang sosialis, sementara Argentina dipimpin Presiden Javier Milei yang libertarian dan pro-AS. Sanchez vokal mendukung Palestina, sedangkan Milei condong ke Israel. Perbedaan ini membuat publik terbelah: pendukung Palestina cenderung mendukung Spanyol, sementara pendukung Israel memihak Argentina.
Namun, sikap terhadap Palestina-Israel tidaklah kaku. Argentina telah mengakui Palestina sejak 2010 di bawah pemerintahan kiri, dan jika Spanyol berganti ke sayap kanan, sikapnya bisa berbalik. Di antara rakyat kedua negara pun ada yang berbeda pandangan.
Pada akhirnya, final ini adalah panggung olahraga yang tak lepas dari sejarah dan politik. Namun, penonton diingatkan untuk tidak bertengkar demi tim yang bukan milik mereka. Sepak bola tetap menjadi tontonan yang bisa dinikmati tanpa permusuhan.
Artikel Terkait
Spanyol Juara Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Argentina Lewat Perpanjangan Waktu
Pemain Argentina Terlibat Perkelahian Usai Kalah dari Spanyol di Final Piala Dunia
Argentina Tak Bertaji, Spanyol Juara Piala Dunia 2026
Trump Jadi Pusat Perhatian di Final Piala Dunia 2026, Spanyol Juara