Di Balik Pelatihan Menjahit, Rehabilitasi Sosial yang Tak Terlihat

- Minggu, 05 Juli 2026 | 11:06 WIB
Di Balik Pelatihan Menjahit, Rehabilitasi Sosial yang Tak Terlihat

Suara mesin jahit memenuhi ruang pelatihan. Di sudut ruangan, Maya bukan nama sebenarnya beberapa kali menghentikan pekerjaannya. Jarum jahit terlepas dari genggamannya, pikirannya masih dibayangi rasa takut.

Beberapa bulan sebelumnya, perempuan 28 tahun itu tiba di sebuah Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) setelah mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Hari-hari pertama ia habiskan dengan mengurung diri di kamar, enggan bicara, bahkan tak berani menatap lawan bicara.

Melihat Maya belajar menjahit, sebagian orang mungkin mengira LKS tak berbeda dengan balai latihan kerja. Padahal, pelatihan keterampilan hanyalah satu bagian kecil dari proses rehabilitasi sosial yang jauh lebih panjang.

Masih banyak masyarakat yang memandang LKS sekadar tempat belajar keterampilan. Persepsi itu muncul karena kegiatan yang paling sering terlihat adalah pelatihan menjahit, tata boga, membatik, atau salon kecantikan. Fungsi utama LKS sejatinya bukan pelatihan kerja, melainkan pelayanan kesejahteraan sosial melalui rehabilitasi sosial bagi mereka yang mengalami permasalahan sosial.

Rehabilitasi sosial bertujuan memulihkan kemampuan seseorang menjalankan fungsi sosialnya agar bisa hidup mandiri di tengah keluarga dan masyarakat. Sasaran program ini bukan hanya mereka yang kesulitan ekonomi, tetapi juga korban kekerasan, korban perdagangan orang, perempuan rentan, anak yang membutuhkan perlindungan khusus, penyandang disabilitas, lanjut usia terlantar, dan kelompok rentan lainnya.

Karena itu, Maya tidak langsung diarahkan mengikuti pelatihan keterampilan. Ia terlebih dahulu dibantu untuk kembali merasa aman, membangun kepercayaan diri, berinteraksi dengan orang lain, dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah keluar dari lembaga. Ketika kondisi mentalnya mulai membaik, barulah pelatihan keterampilan diberikan sebagai bekal kemandirian.

Pendekatan ATENSI

Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Sosial melalui program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI). Program ini tidak sekadar memberi bantuan, tetapi menghadirkan layanan rehabilitasi sosial yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap individu. Layanan itu meliputi pemenuhan kebutuhan dasar, pengasuhan, terapi, pembinaan mental dan spiritual, pelatihan vokasional, dukungan kewirausahaan, reunifikasi keluarga, hingga pendampingan setelah kembali ke masyarakat.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa pelayanan sosial harus menghasilkan perubahan nyata. Menurutnya, bantuan sosial maupun rehabilitasi sosial tidak boleh berhenti pada pemberian fasilitas, tetapi harus mampu meningkatkan kemandirian sehingga penerima manfaat dapat bangkit dan menjalani kehidupan yang lebih baik.

Prinsip itu terlihat dalam keseharian pelayanan di berbagai LKS. Ketika Maya mulai berani mengikuti kegiatan kelompok, ia tidak hanya belajar menjahit. Ia juga mulai terbiasa berdiskusi, mengikuti pembinaan, belajar mengatur waktu, membangun kembali rasa percaya diri, hingga menyusun rencana ketika kembali ke keluarganya. Perubahan itu terjadi sedikit demi sedikit dan sering kali tak terlihat oleh masyarakat.

Inilah yang membedakan LKS dengan balai latihan kerja. Balai latihan kerja berperan meningkatkan kompetensi calon tenaga kerja agar siap memasuki dunia kerja. Sementara itu, LKS memiliki mandat lebih luas: membantu seseorang bangkit dari persoalan sosial melalui proses rehabilitasi sosial. Pelatihan keterampilan menjadi salah satu media untuk mencapai tujuan tersebut, bukan tujuan akhir.

Masyarakat biasanya hanya melihat hasil akhir. Ketika seorang penerima manfaat berhasil membuat pakaian, roti, atau memperoleh pekerjaan, yang tampak hanyalah keterampilannya. Padahal, keberhasilan itu sering kali diawali dari keberanian untuk kembali berbicara dengan orang lain, mampu mengendalikan emosi, memperbaiki hubungan dengan keluarga, hingga kembali memiliki harapan terhadap masa depan.

Pada akhirnya, keberhasilan rehabilitasi sosial tidak hanya diukur dari berapa banyak orang yang bekerja setelah keluar dari LKS. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika seseorang mampu kembali menjalani kehidupan secara mandiri, diterima oleh keluarga dan masyarakat, serta memiliki kepercayaan diri untuk melangkah ke masa depan.

Ketika Maya meninggalkan lembaga beberapa bulan kemudian, ia memang membawa keterampilan menjahit. Namun, yang jauh lebih berharga adalah keberanian untuk memulai hidup baru. Di situlah letak misi besar LKS yang sering kali tak terlihat oleh masyarakat. Di balik pelatihan keterampilan, sesungguhnya ada upaya memulihkan kehidupan manusia agar dapat kembali hidup dengan martabat, harapan, dan kesempatan yang sama untuk membangun masa depannya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags