Jujur, gue masih janggal sama dia. Rasanya ada yang nggak nyambung.
Kalau ditimbang pakai logika orang kebanyakan yang masih sibuk mengejar dunia, kelakuannya itu benar-benar nyeleneh. Coba bayangkan. Tiket untuk hidup enak sudah di tangannya. Rumah ber-AC, tabungan aman, bisnis jalan, anak-anak lucu, karir suami-istri mapan. Naluri dasar manusia kan menghindar dari bahaya, tapi dia malah menyodorkan nyawanya ke tempat yang cuma berisi puing, bau mesiu, dan tangisan. Ke negeri yang menurut klaim CEO MBG dan Trump sedang akan diubah jadi modern dan damai itu.
Buat apa sih? Kurang tenar? Mana mungkin, pengikutnya sudah jutaan. Kurang uang? Jelas bukan.
Tapi, pas gue coba pikirkan pakai logika jalanan yang lebih kasar, ada satu benang merah yang muncul. Agak ngeri, tapi masuk akal. Ini bukan soal dia "aneh". Ini tentang seseorang yang sudah muak dengan segala kepalsuan.
Dunia selebriti tempatnya cari makan? Semuanya plastik. Senyum di depan kamera itu settingan, bahkan jalan hidupnya pun pernah diatur oleh rating. Gue menduga, dia pergi ke sana untuk mencari "tamparan". Dia butuh melihat darah asli, debu yang nyata, dan ketakutan yang murni. Mungkin biar dia ingat kalau dirinya masih manusia yang berpijak di tanah, bukan sekadar manekin pajangan di etalase toko mewah.
Soal bertahan hidup, dia sudah lewat fase itu. Ketika perut sudah kenyang dan dompet tebal, musuh terbesar bukan lagi kemiskinan. Tapi kehampaan. Kalau cuma diam di rumah megahnya, dia cuma akan jadi orang kaya yang membosankan, lalu mati perlahan ditelan kenyamanannya sendiri.
Jadi, dia membeli rasa "hidup" itu dengan cara yang ekstrem. Popularitasnya dipakai bukan cuma untuk jualan baju, tapi jadi pengeras suara bagi mereka yang suaranya tak didengar. Ini bukan sekadar jalan-jalan amal. Ini caranya membuktikan pada diri sendiri bahwa hidupnya itu nyata, bukan sekadar skenario sinetron yang diputar ulang.
Kalau mau dikulik lebih dalam pakai teori orang-orang pinter, sebenarnya Zaskia sedang menjalani apa yang disebut Søren Kierkegaard.
Filsuf itu bilang, hidup punya beberapa tingkatan. Kebanyakan artis terjebak di tahap paling bawah: tahap Estetis. Hidup cuma untuk kesenangan, keindahan, dan menghindari rasa sakit. Tapi Zaskia? Dia nekat melompat ke tahap Etis dan Religius.
Di tahap ini, pertanyaannya bukan lagi "Apa yang bikin gue senang?", melainkan "Apa tugas gue?". Dia sadar, kenyamanan estetiknya itu hampa. Dia butuh "Lompatan Keyakinan" ke tempat yang secara logika tak masuk akal, tapi justru mengisi jiwanya.
Lalu, kalau pakai kacamata Friedrich Nietzsche, yang dilakukannya ini adalah penolakan untuk menjadi "The Last Man".
Nietzsche muak dengan tipe manusia itu. Manusia yang hidupnya cari aman dan nyaman, berkedip-kedip puas bilang "kami bahagia", padahal jiwanya menciut. Zaskia menolak menciut. Dia menerapkan "Amor Fati", mencintai takdir termasuk bagian takdir yang paling pahit dan perih. Dia tidak lari dari penderitaan orang lain. Dia merangkulnya, karena di situlah dia merasa menjadi manusia yang "berdaya", bukan sekadar objek tontonan.
Dan yang terakhir, ini seperti validasi dari teori Viktor Frankl tentang Will to Meaning.
Frankl, psikiater yang selamat dari kamp Nazi, bilang manusia sebenarnya tidak butuh mengejar kebahagiaan. Bahagia itu efek samping. Yang kita butuhkan adalah MAKNA.
Zaskia tahu. Uang banyak tidak memberi makna. Terkenal juga tidak. Tapi melihat senyum bocah di tengah reruntuhan, karena bantuan yang dia bawa? Itu yang memberi makna. Itu yang membuat segala kemewahan di Jakarta tiba-tiba terasa sangat kecil. Penderitaan berhenti menjadi penderitaan, saat kamu menemukan makna di dalamnya.
Jadi, kejanggalan yang kita lihat padanya itu, barangkali, justru bentuk kewarasan tingkat tinggi. Sebuah kewarasan yang sulit dicerna oleh kita yang masih sibuk memikirkan cicilan atau konten viral besok.
(Balqis Humaira)
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu