Ketika Bahasa Bayi Menggerus Kedalaman: Resistensi Intelektual di Era Komoditas Informasi

- Minggu, 01 Februari 2026 | 07:06 WIB
Ketika Bahasa Bayi Menggerus Kedalaman: Resistensi Intelektual di Era Komoditas Informasi

Semuanya berawal dari sebuah klip podcast yang tak bisa saya lupakan. Figur akademisi Bagus Muljadi sedang berbicara tentang mental kolonial yang ia anggap masih mendarah daging. Intinya, menurutnya, ada narasi yang menganggap pribumi itu harus berpikir sederhana dan berbahasa sederhana. Sementara itu, kaum kolonial dulu yang berkiblat ke Barat dipandang punya pemikiran kompleks dan empiris. Pendapatnya itu, jujur saja, bikin saya resah.

Gaya penyampaiannya yang condong ke citra intelektual tinggi langsung memantik penolakan. Banyak yang merasa cara seperti itu justru gagal menyampaikan pesan.

Yang berbahaya, menurut saya, pandangan semacam ini malah menormalisasi kedangkalan berpikir. Seolah-olah yang sederhana itu selalu benar, dan yang rumit itu selalu sok tahu. Kita jadi lupa, bahwa kerumitan seringkali adalah bagian dari kedalaman.

Nah, biasanya kita langsung berlindung di balik kutipan Einstein. Katanya, kalau kamu bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana, berarti kamu benar-benar paham. Atau pepatah lama tentang padi, yang semakin berisi semakin merunduk.

Awalnya, nasihat itu terdengar bijak. Tapi di era post-truth sekarang, maknanya bergeser. Bahkan dipelintir. Sederhana bukan lagi soal kejelasan, tapi jadi alasan untuk menolak kerumitan. Hasilnya? Muncul sentimen negatif terhadap siapa saja yang terlihat serius secara intelektual dedikasi tinggi dianggap arogan, tutur kata formal dicap elitis.

Tanpa disadari, logika percakapan kita sehari-hari sudah keracunan budaya komoditas. Prinsip "pembeli adalah raja" membuat segalanya harus praktis dan instan. Saya sendiri sering ragu. Ketika ingin menggunakan kosakata yang tepat, ada aura intimidasi dari lawan bicara. Haruskah saya uraikan dengan kata-kata yang lebih sederhana? Agar tidak dianggap bertele-tele, atau yang lebih parah agar tidak membuat mereka merasa bodoh.

Daniel Kahneman pernah bilang, otak kita memang malas. Dia punya preferensi alami untuk menerima informasi yang familiar dan ringan, lalu menerimanya sebagai kebenaran.

Jadi, ironisnya, di zaman sekarang kebenaran yang otentik dan berbobot harus dibongkar pasang. Dia harus dibungkus ulang dengan kemasan yang sederhana, fleksibel, dan praktis. Akibatnya? Distorsi makna di mana-mana. Dan yang mengkhawatirkan, implikasi serius dari hal ini seperti delegitimasi nilai rasional dalam ilmu pengetahuan kurang dapat perhatian.

Psikolog Carol Dweck punya penjelasan. Bagi orang dengan pola pikir tetap, situasi menantang bisa terasa mengancam. Ini akhirnya menghambat pertumbuhan kecerdasan mereka sendiri.

Ekosistem digital kita jelas memperparah keadaan. Platform seperti TikTok atau YouTube Shorts mendewakan durasi pendek dan visual mencolok. Substansi yang dalam sering dikorbankan demi engagement.

Memang, masih ada kreator yang menyajikan konten aktual dan narasi lengkap. Tapi jumlahnya kalah banyak dibanding yang menawarkan pemahaman ala "face-to-face", dengan gestur tubuh dan analogi super sederhana atau sering disebut "bahasa bayi".

Akibatnya, wacana ilmiah jadi keruh. Dia jadi objek kritik yang tidak berbobot, hanya karena orang menghendaki kemudahan dalam setiap dialog. Para populis pun mengambil alih. Mereka memanfaatkan fenomena ini untuk komodifikasi, mengejar angka penonton tinggi.

Terbentuklah ilusi kompetensi yang berbahaya. Seseorang merasa sudah paham geopolitik atau mekanika kuantum hanya dari video 60 detik, tanpa pernah membuka buku teks.

Tentu, penyederhanaan punya tempatnya. Dia diperlukan untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan, terutama untuk masyarakat dengan akses pendidikan terbatas.

Tapi di sini ada batas tipis. Sangat tipis. Antara membuat sesuatu jadi aksesibel, dan melakukan penyederhanaan berlebihan yang justru menghilangkan esensi kebenarannya.

Di tengah situasi ini, muncul sosok seperti Ferry Irwandi. Bersama komunitas Madilog, ia berhasil menjangkau audiens yang jarang disentuh akademisi konvensional. Pengikutnya jutaan.

Kebanyakan dari mereka pasti menyukai model "bahasa bayi" yang ia terapkan. Tapi, menurut pengamatan saya, Irwandi paham betul dimana batasnya. Ia tidak mempersempit ruang logika yang otentik dan ilmiah. Hasilnya, terciptalah wacana ilmiah populer dimana orang merasa bebas berargumen, tanpa merasa diintimidasi oleh gatekeeping bahasa.

Namun begitu, setiap aksi ada konsekuensinya. Kita harus waspada pada Pseudo-Intelektualisme. Fenomena dimana seseorang berusaha terlihat pintar tanpa landasan kuat. Ini racun yang lebih mematikan, karena berada di area abu-abu yang sulit dibedakan.

Lev Vygotsky, lewat konsep Zone of Proximal Development, mengingatkan kita. Pembelajaran efektif terjadi justru ketika kita didorong sedikit keluar zona nyaman, dengan bimbingan yang tepat. Bukan dengan menurunkan standar materi sampai ke titik terendah hanya agar semua merasa nyaman.

Menyamaratakan standar komunikasi publik ke level paling rendah dengan dalih inklusivitas adalah penghinaan terselubung terhadap kecerdasan masyarakat. Itu mentalitas budak.

Dan mentalitas seperti itu hanya bisa ditumpas dengan satu cara: kesadaran kolektif. Lewat perjuangan, dan dalam situasi yang kritis. Karena pada akhirnya, biang keladi dari kebiasaan mengonsumsi yang instan adalah ketersediaannya yang melimpah, dan hilangnya rasa urgensi untuk benar-benar sadar.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler