Di Cisarua, Bandung Barat, upaya pencarian korban longsor masih terus digenjot. Operasi SAR tak kenal lelah meski medannya sulit. Dugaan sementara, bencana ini dipicu oleh runtuhnya bagian yang disebut "mahkota" di Gunung Burangrang.
Citra udara yang berhasil direkam TNI AU memperlihatkan situasi yang memilukan. Dari ketinggian, tanah merah dan lumpur tampak menganga, membelah habis hijaunya lereng gunung. Pemandangan itu jelas menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan alam yang melanda.
Untuk memetakan kerusakan dengan tepat, Pusat Geospasial TNI AU (Pusgeosau) mengerahkan drone Avia Hybrid. Mereka terbangkan alat itu di atas Desa Pasirlangu sejak Selasa lalu. Tujuannya jelas: mendapatkan gambaran utuh area bencana tanpa harus membahayakan lebih banyak personel.
"Data hasil pemantauan udara dimanfaatkan untuk mendukung pencarian korban, operasi SAR, penanganan darurat, serta identifikasi jalur evakuasi dan infrastruktur terdampak,"
Begitu penjelasan Kapusgeosau, Marsda TNI Ferdinand Roring, lewat unggahan resmi @militerudara pada Kamis. Langkah ini bagian dari Operasi Militer Selain Perang, wujud nyata dukungan TNI dalam penanggulangan bencana.
Nah, soal "mahkota longsor" ini sendiri sempat jadi pembahasan serius di DPR. Kepala Basarnas, Masydya M Syafii, yang memberi penjelasan detail.
"Kami izin sampaikan bahwa awalnya kami men-detect adalah satu puncak titik dari pusat longsor yang kami sebut adalah 'mahkota longsor'. Dari titik mahkota longsor sampai dampak longsoran yang terbawah ini mencapai 2.009 meter,"
ucap Syafii dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR.
Tapi ternyata, ceritanya lebih kompleks. Menurut Syafii, ada dua mahkota yang terlibat.
"Ternyata mahkota longsor tidak di ketinggian itu sebenarnya awalnya. Jadi di puncak Gunung Burangrang itu ternyata ada mahkota yang pertama. Ternyata dari longsoran ini menciptakan longsoran kedua dengan mahkota itulah. Jadi langsung menimpa dalam bukit yang besar ini dan berdampak seperti ini"
Jadi, runtuhnya mahkota pertama di puncak memicu longsoran sekunder yang jauh lebih besar. Rantai kejadian inilah yang akhirnya menghancurkan apa yang ada di bawahnya. Sementara di lapangan, tim gabungan masih berjuang, berharap menemukan tanda-tanda kehidupan di antara tumpukan tanah dan bebatuan.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu