Ada yang bilang, menaikkan status jadi bencana nasional cuma akan mengundang asing masuk dan mengganggu kedaulatan. WHAATTTTT????
Pernyataan itu emang bikin geleng-geleng. Tapi di tengah situasi darurat yang nyawa jadi taruhannya, logika macam ini sama sekali nggak nyambung. Waktu terus berjalan. Setiap penundaan bantuan, artinya nyawa yang hilang semakin banyak.
Memang sih, kedaulatan itu penting. Namun begitu, meneriakkan kedaulatan sementara rakyat sendiri sedang berjuang antara hidup dan mati? Rasanya seperti omong kosong. Bunyinya keras, tapi isinya nol.
Lha, coba kita lihat. Kekayaan alam kita dikeruk pihak asing, di mana suara lantang soal kedaulatan dan kemandirian negara? Sepi. Nggak kedengaran.
Lagipula, sejak kapan sih status bencana nasional jadi semacam tiket gratis buat negara lain buat masuk semaunya? Itu nggak masuk akal.
Faktanya, status itu bukan gerbang terbuka lebar. Bukan berarti negara lain bisa seenaknya menancapkan benderanya di sini.
Semua bantuan, entah itu dari Malaysia, China, Turki, atau dari mana pun, tetap harus ikut aturan kita. Mereka bekerja di bawah komando dan koordinasi pemerintah Indonesia. Titik.
Mereka datang sebagai tamu yang kita undang karena kita butuh, bukan sebagai penjajah yang memaksakan diri.
Masa iya sebuah negara tiba-tiba bisa menguasai Aceh cuma karena bawa tenda dan selimut? Gimana ceritanya?
Atau, dokter asing yang bantu obati korban lantas dibilang ancaman buat kedaulatan? Ini mah ketakutan yang nggak pada tempatnya.
Ketakutan itu nggak sebanding dengan realita yang terjadi di lapangan. Sementara sebagian orang sibuk membayangkan skenario geopolitik yang ruwet, di lokasi bencana, korban berteriak minta pertolongan.
Wilayah terisolasi. Korban bertahan cuma dengan air hujan. Bantuan terpaksa diseret pakai rakit darurat karena helikopter saja tak cukup. Di titik itu, jelas terlihat masalah utamanya bukan ancaman dari luar negeri.
Masalah terbesarnya justru kapasitas kita yang kewalahan menghadapi bencana sebesar ini. Daerah nggak sanggup menanggung sendirian.
Negeri besar saja nggak malu minta bantuan. Jepang terima bantuan internasional saat Fukushima. Turki dibantu puluhan negara waktu gempa 2023 lalu. Bahkan Amerika, saat dihajar badai Katrina, terima bantuan dari 90 negara lebih.
Apakah kedaulatan mereka lantas melemah? Enggak. Soalnya kedaulatan itu nggak ditentukan oleh siapa yang menolong, tapi siapa yang pegang kendali.
Prinsip yang sama berlaku buat Indonesia. Selama izin, mekanisme, dan komando tetap di tangan kita, kedaulatan nggak bakal bergeser sedikitpun.
Di tengah tangisan korban yang terisolasi, di depan mata nenek-nenek yang terhuyung antri makanan, di antara relawan yang kelelahan, dan di daerah yang terputus dari dunia luar rasanya terlalu kejam kalau kita malah sibuk memikirkan skenario fiktif soal kedaulatan yang diganggu.
(Nur Fitriyah As’ad)
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu