Sumatra yang Menangis dan Indonesia yang Harus Bangkit
Sumatra itu lebih dari sekadar pulau. Ia adalah ingatan. Ingatan panjang tentang hutan yang masih bernapas lega, sungai-sungai yang menghidupi peradaban, dan tentang manusia yang hidup dalam kesepakatan sunyi bersama alam. Dari ujung Aceh hingga Lampung, denyut sejarah Indonesia tersimpan di sini. Sayangnya, denyut itu kini terasa melemah. Bukan karena kehilangan jiwa, tapi karena luka yang dibiarkan terlalu lama.
Kita kerap membanggakan Indonesia sebagai bangsa besar. Tapi, apa artinya kebesaran itu jika sebagian dari tubuhnya dibiarkan merintih? Tangis Sumatra tidak selalu berupa air mata. Ia berupa hutan yang gundul, tanah yang pecah-pecah, sungai yang keruh, dan masyarakat yang ruang hidupnya menyempit setiap hari. Tangisnya lirih, seolah takut mengganggu gemerlap "pembangunan" di seberang lautan.
Di sisi lain, ironinya justru di situlah. Sumatra adalah salah satu penopang ekonomi negeri ini. Hasil bumi, energi, kekayaan alam banyak yang bermula dari sini. Tapi apa yang seringkali diterima oleh rakyatnya? Debu, asap, dan janji yang menguap. Saat hutan dibabat, saat tanah adat tergusur, pertanyaan yang muncul sebenarnya sederhana: untuk siapa semua ini?
Kebangsaan sejati bukan cuma slogan. Bukan sekadar bendera atau lagu kebangsaan yang dinyanyikan dengan kencang. Ia adalah keberanian mendengar tangisan dari wilayah yang jauh dari ibu kota. Ia adalah empati yang mampu menembus batas pulau dan kepentingan. Kalau Sumatra menangis, sebenarnya Indonesia-lah yang menangis. Cuma, kita mungkin terlalu sibuk untuk menyadarinya. Lihat saja, mengapa kasus-kasus bencana di Aceh, Sumut, atau Sumbar kerap hanya jadi berita lokal, tak benar-benar diangkat sebagai persoalan nasional?
Sumatra punya sejarah panjang melahirkan pemikir-pemikir besar bangsa. Dari sini lahir suara-suara kritis yang mempertanyakan keadilan dan harga diri. Artinya, Sumatra tidak butuh dikasihani. Yang dia minta cuma satu: keadilan. Keadilan untuk dianggap sebagai subjek, bukan cuma objek eksploitasi. Keadilan untuk didengar, bukan sekadar dihitung angka kontribusinya di laporan statistik.
Membiarkan ketimpangan terjadi sama saja meretakkan fondasi bangsa kita. Sebab bangsa ini takkan kuat jika hanya bertumpu pada satu pusat. Indonesia akan goyah kalau Sumatra, Kalimantan, Papua, dan wilayah lainnya terus menanggung beban yang tak seimbang. Tangisan satu pulau seharusnya jadi alarm peringatan bagi kita semua.
Tapi, ini bukan cuma soal meratapi keadaan. Justru, tangisan itu bisa jadi awal sebuah kebangkitan. Sumatra tidak memerlukan belas kasihan, melainkan solidaritas nyata. Solidaritas sesama anak bangsa untuk mendorong kebijakan yang memihak manusia dan lingkungan hidup. Kita harus ingat, pembangunan tanpa nurani itu cuma jalan pintas menuju kehancuran.
Lalu, bangkit itu seperti apa? Bukan berarti marah-marah tanpa arah. Bangkit itu soal kesadaran kolektif. Sadar bahwa tanah air bukan komoditas. Sadar bahwa kebangsaan bukan formalitas belaka. Dan sadar bahwa kita tak bisa mewariskan masa depan dalam kondisi yang luka-luka. Kebangkitan sejati dimulai dari pertanyaan sederhana: apakah kemajuan yang kita kejar masih menyisakan ruang untuk kemanusiaan?
Di sinilah peran generasi muda Sumatra dan Indonesia menjadi krusial. Mereka adalah jembatan antara ingatan masa lalu dan harapan masa depan. Kalau mereka lupa pada akar, bangsa ini bisa tumbuh tinggi tapi rapuh. Sebaliknya, kalau mereka bisa merawat ingatan kolektif, lalu menyatukannya dengan ilmu serta keberanian moral, maka kebangkitan bukanlah mimpi belaka.
Ada satu pelajaran penting dari Sumatra: alam dan manusia itu tak terpisahkan. Lukai alam, manusia akan tersesat. Abaikan manusia, maka kebangsaan kehilangan maknanya. Karena itu, membela Sumatra bukanlah tindakan kedaerahan yang sempit. Itu adalah tindakan nasionalisme yang paling murni nasionalisme yang hidup, bernapas, dan berpihak pada keadilan.
Akhirnya, berbagai bencana di tanah Sumatra harusnya jadi cambuk. Bukan untuk menutup mata, tapi justru untuk mengakui ada yang salah. Indonesia harus bangkit dengan kebijakan yang adil, dengan keberanian melawan keserakahan, dan dengan kesediaan mendengarkan suara-suara yang selama ini terpinggirkan. Kekuatan bangsa ini terletak pada keutuhannya, bukan pada dominasi satu wilayah atas wilayah lain.
Kita boleh berharap, suatu hari nanti Sumatra tidak lagi menangis. Bukan karena dipaksa diam, tapi karena ia benar-benar didengar. Dan saat itu terjadi, Indonesia bukan cuma bangkit. Ia akan berdiri tegak dengan martabatnya kembali. Selamatkan Sumatra, bangkitlah Indonesia.
Tabik.
Jaksat/ed-am
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu