Di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa malam lalu, suasana rapat pleno PBNU terasa tegang. Dari situ, muncul satu nama: KH Zulfa Mustofa. Dia ditunjuk jadi Penjabat Ketua Umum. Langsung saja, tanggapan sang kiai pun mencuri perhatian.
“Saya tidak ingin jadi bagian dari konflik masa lalu,” ujar Kiai Zulfa tegas, tak lama setelah penetapan itu resmi.
Dia melanjutkan, “Saya ingin jadi solusi bagi Jam’iyah ini untuk masa depan.”
Pernyataannya itu seperti angin segar. Banyak yang menangkapnya sebagai sinyal rekonsiliasi, upaya melangkah ke depan tanpa terbebani perselisihan lama. Bagi Zulfa sendiri, amanah ini bukan perkara mudah. Dia mengakuinya dengan lugas.
“Ini kehormatan, ya. Tapi jangan salah, tanggung jawabnya juga besar sekali. Bukan cuma buat saya, tapi buat kita semua,” katanya, menyiratkan beban yang dipikulnya.
Komitmennya jelas: menjalankan mandat dari Rais Aam dan forum pleno sepenuh hati. Tapi jalan di depannya masih panjang. Prioritas utamanya sekarang sederhana tapi krusial: menormalkan dulu roda organisasi yang sempat goyah.
“Tugas saya berat,” aku Zulfa. “Pertama, normalisasi organisasi. Baru setelah itu, kami akan fokus menghantarkan Muktamar, yang diawali dengan Konbes.”
Namun begitu, semua rencana itu mustahil berjalan tanpa dukungan. Karena itulah, di akhir pernyataannya, Kiai Zulfa menyampaikan ajakan yang terdengar lebih seperti harapan.
“Ayo kita bersatu lagi. Kembali ke Rumah Besar kita ini. Sudah terlalu lama warga NU dirundung rasa sedih dan ketidakpastian,” pungkasnya.
Ajakan itu menggema. Sekarang, tinggal menunggu jawaban dari seluruh jajaran dan warga NU di berbagai tingkatan. Apakah mereka siap berjalan bersama?
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu