Ketika Bencana Menghantam, Para Ulama Ini Menjawab dengan Senyum dan Solusi

- Senin, 08 Desember 2025 | 09:50 WIB
Ketika Bencana Menghantam, Para Ulama Ini Menjawab dengan Senyum dan Solusi

Sepanjang sejarah, para ulama Islam tak cuma jadi penjaga ilmu. Mereka ibarat mercusuar yang tetap tegak berdiri, bahkan saat badai bencana menerjang. Mereka juga manusia biasa yang tak luput dari musibah. Bedanya, cara mereka menghadapinya meninggalkan jejak yang terus jadi pelajaran berharga.

Ada yang diuji dengan kehilangan keluarga. Ada yang menghadapi wabah, gempa, atau fitnah politik yang memecah belah. Tapi mereka kokoh berdiri. Menghadapi semuanya dengan senyum, lalu bangkit untuk memberi solusi.

Ini beberapa kisah tentang keteguhan hati mereka.

Imam Nawawi: Pengembara Ilmu yang Tak Punya Rumah

Bagi kebanyakan orang, tak punya rumah adalah musibah besar. Tapi bagi Imam Nawawi, hidup dalam kefakiran dan tanpa tempat tinggal tetap justru jadi bagian dari perjalanannya menuntut ilmu. Ia tinggal di masjid atau ruangan madrasah saat pindah kota untuk belajar.

Suatu ketika, banjir melanda. Buku-buku dan catatannya basah, sebagian hilang terbawa air. Murid-muridnya sedih melihatnya.

Dengan tenang, Imam Nawawi berkata, "Apa yang hilang dari tangan kita akan diganti Allah dengan apa yang mengalir dari lisan dan hati."

Ucapan itu bukan sekadar penghibur. Buktinya, dari tangannya lahir kitab-kitab monumental seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Majmu’ yang hingga kini jadi rujukan utama.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani: Saat Masjid Dilalap Api

Riwayat menceritakan, masjid tempat Syekh Abdul Qadir al-Jailani mengajar pernah terbakar. Jamaah panik. Kitab-kitab dan barang berharga lain hangus jadi abu.

Di tengah kepanikan itu, sang Syekh berdiri dan menyampaikan kalimat yang menenteramkan: "Api bisa membakar kayu dan bangunan, tetapi tidak bisa membakar majelis ilmu."

Keesokan harinya, yang terjadi justru di luar dugaan. Jamaah berdatangan lebih banyak. Orang-orang ramai membantu membangun kembali masjid, sekaligus ingin "dibangun" hatinya. Musibah kebakaran itu malah memperluas dakwahnya.

Imam Malik di Tengah Wabah Madinah

Madinah pernah dilanda wabah mematikan di masa Imam Malik. Banyak ulama dan warga meninggal, termasuk murid-murid dekatnya sendiri. Suasana kota dipenuhi kesedihan.

Ada yang bertanya, mengapa ia masih tetap mengajar di situasi seperti itu?

Imam Malik menjawab, "Ilmu adalah kehidupan. Ketika musibah menghampiri, justru manusia paling membutuhkan cahaya."

Ia tak mengajar karena tak takut mati. Tapi karena yakin, kepanikan lebih berbahaya daripada wabah itu sendiri. Keteguhannya jadi penyangga mental bagi seluruh masyarakat Madinah.

Kisah Syekh Nawawi al-Bantani dan Banjir Makkah

Di masa mudanya menuntut ilmu di Makkah, Syekh Nawawi al-Bantani mengalami banjir besar melanda kota suci itu. Banyak kitab milik pelajar asal Nusantara yang rusak terendam.

Dengan hidup yang sangat sederhana, ia mengumpulkan kawan-kawannya. "Kitab bisa dicari lagi," katanya. "Tetapi orang yang masih hidup harus saling menjaga."

Lalu, dengan tangannya sendiri, ia menyalin ulang catatan-catatan temannya yang hilang. Musibah banjir itu justru menguatkan ikatan persaudaraan di antara mereka.

KH Hasyim Asy’ari Menghadapi Gempa Jombang 1916

Februari 1916, gempa dahsyat mengguncang Jombang. Banyak rumah roboh, termasuk bangunan di sekitar Pesantren Tebuireng. Para santri panik, ada yang menangis, ingin pulang.

Kiai Hasyim Asy’ari keluar, berdiri di tengah lapangan, dan menyeru dengan suara lantang: "Jangan takut pada guncangan bumi. Takutlah jika hati kalian yang berguncang."

Seruan itu langsung meredakan kepanikan. Ia lalu memerintahkan santri berkumpul, berdoa bersama, lalu membentuk tim untuk membantu warga memperbaiki rumah. Dari sinilah Tebuireng berubah jadi pusat bantuan pertama di Jombang. Guncangan bumi justru mengokohkan pondasi pesantren.

KH Ahmad Dahlan dan Ujian Kebakaran Kauman

Sebelum Muhammadiyah besar seperti sekarang, KH Ahmad Dahlan diuji musibah berat. Kebakaran hebat melanda Kampung Kauman, tempat ia tinggal. Rumah-rumah hangus, banyak pengikutnya kehilangan tempat berlindung.

Ia tidak sibuk mengeluh. Justru, Kiai Dahlan mengumpulkan jamaah dan menyampaikan pesan penting: "Bencana adalah seruan agar kita memperbaiki kehidupan sosial."

Dari tragedi pahit inilah ia mengorganisir bantuan, mendirikan rumah darurat, dan menggerakkan semangat tolong-menolong. Cikal bakal gerakan filantropi Muhammadiyah banyak terinspirasi dari pengalaman ini.

KH Bisri Musthofa dan Banjir yang Menghentikan Pengajian

Suatu kali, KH Bisri Musthofa sedang asyik mengisi pengajian di Tegal. Tiba-tiba, banjir datang menerjang. Air naik hingga masuk ke panggung tempatnya berdiri. Panitia meminta acara dihentikan.

Beliau malah tersenyum. "Kalau hanya air, kita bisa bertahan," ujarnya diselingi tawa. "Yang bahaya itu banjir dosa."

Keceriaannya menenangkan hati jamaah. Tapi setelah itu, ia turun langsung membantu mengungsikan warga, khususnya ibu-ibu dan anak-anak. Hari-hari berikutnya dihabiskannya untuk keliling kampung menyalurkan bantuan. Humornya menenangkan, tindakannya yang menguatkan.

Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler