Banjir Bandung Melanda, Gubernur Malah Dikecam karena Ditinggalkan

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 09:00 WIB
Banjir Bandung Melanda, Gubernur Malah Dikecam karena Ditinggalkan

KELAKUAN GUBERNUR KONTEN INI SANGAT MENJIJIKAN!

Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Bandung Kamis sore lalu, ternyata tak hanya membawa air. Ia juga memicu gelombang kritik di media sosial. Sorotan utama? Sang Gubernur yang dianggap tak berada di tempat saat wilayahnya dilanda musibah.

“Orang ini selalu berusaha memanfaatkan situasi untuk kampanye dirinya sendiri,” tulis seorang netizen dengan nada kesal.

“Situasi apapun, bahkan musibahpun. Demi pencitraan, daerah yang dipimpinnya lagi kena musibah banjir pun malah ditinggal. Kalo yg dilakukan tulus, pasti dia pilih urusin daerah sendiri. Lihat si oportunis ini,” lanjutnya.

Komentar itu berasal dari akun X @bumbelbi1999, dan langsung memantik perdebatan hangat di linimasa.

Banjir Bandung, Ratusan Rumah Terendam

Faktanya, bencana yang terjadi pada Kamis (4/12) sekitar pukul enam lebih sore itu memang cukup serius. Hujan dengan intensitas tinggi membanjiri setidaknya lima desa dan kelurahan di Kabupaten Bandung.

Menurut catatan BPBD Jabar, wilayah yang terdampak meliputi Cingcin di Soreang, Bojongsoang, Kamasan dan Margahurip di Banjaran, serta Cangkuang Wetan di Dayeuhkolot. Bojongsoang jadi titik terparah bayangkan, 615 rumah terendam air.

Di Kamasan, 80 rumah ikut tergenang. Cangkuang Wetan 47 unit, dan Cingcin 6 unit. Sementara di Margahurip, satu rumah mengalami kerusakan cukup berat diterjang arus banjir.

Secara total, ratusan kepala keluarga merasakan dampaknya. Rinciannya: 615 KK di Bojongsoang, 80 KK di Kamasan, 47 KK di Cangkuang Wetan, 6 KK di Cingcin, dan 1 KK di Margahurip. Yang cukup memprihatinkan, seluruh 47 KK di Cangkuang Wetan terpaksa mengungsi. Kabar baiknya, tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Di tengah situasi darurat itu, muncul cuitan lain yang ikut mewarnai diskusi.

Jadi, di satu sisi ada laporan bencana yang riil dan membutuhkan penanganan serius. Di sisi lain, ada hiruk-pikuk politik dan pencitraan yang tak kalah riuhnya di dunia maya. Dua narasi ini berjalan beriringan, membaur antara fakta lapangan dan opini warganet yang kadang tak terbendung.

Pertanyaannya kini: mana yang lebih mendesak untuk diurus? Air yang menggenangi rumah warga, atau badai kritik di linimasa? Mungkin, keduanya sama-sama perlu perhatian, meski dengan porsi yang sangat berbeda.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler