Banjir Bandang dan Pelajaran dari Suku Baduy: Saatnya Kembali pada Harmoni

- Jumat, 05 Desember 2025 | 05:50 WIB
Banjir Bandang dan Pelajaran dari Suku Baduy: Saatnya Kembali pada Harmoni
Harmoni dengan Alam

Mari Jaga Harmoni dengan Alam

Oleh: Girarda
Pemerhati Sosial

Banjir bandang yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat belakangan ini bikin kita berpikir. Ada apa sebenarnya dengan alam? Sudah benarkah cara kita memperlakukannya?

Ingatan saya pun melayang. Teringat pada masyarakat adat, seperti Suku Baduy di Banten. Mereka itu teguh banget memegang budaya leluhur. Cara mereka memperlakukan alam sekitar, sungguh berbeda. Listrik dan televisi? Tak ada. Itu simbol budaya modern yang sengaja dijauhkan.

Yang dijaga justru lingkungan. Harmoni adalah segalanya. Mereka punya hutan larangan, wilayah konservasi yang sama sekali tak boleh ditebang. Sungai dijaga kebersihannya. Bahkan untuk menebang pohon pun ada aturannya, ada waktunya. Tidak asal tebas seenaknya, apalagi pakai alat berat.

Interaksi yang baik seperti inilah yang menjaga keseimbangan. Sebagai balasannya, alam pun paham. Ia memberikan kecukupan untuk hidup, tanpa mendatangkan malapetaka.

Sayangnya, kita kerap lupa. Alam cenderung dianggap benda mati, bisa dieksploitasi sesuka hati untuk memuaskan ambisi yang rakus. Padahal, alam adalah ciptaan Tuhan yang punya makna mendalam.

Kalau diperlakukan semena-mena, ingatlah. Tuhan yang menciptakannya bisa menegur dengan cara yang keras: melalui musibah. Jika ini dianggap sebagai azab, dampaknya tak hanya dirasakan oleh si perusak. Semua orang di wilayah itu akan merasakan akibatnya.

Karena itulah, saling menasihati untuk kebaikan jadi sangat relevan. Mengingatkan agar tak melakukan perbuatan buruk, bisa jadi cara kita mengindarkan diri dari bencana.

Di sisi lain, manusia modern kerap lupa asal-usulnya. Melupakan nenek moyang yang punya adat dan budi luhur dalam menjaga harmoni. Sekarang, banyak yang bertindak hanya untuk melipatgandakan kapital. Dampaknya? Diabaikan.

Perilaku egois yang menyedihkan ini sering kali dibungkus dengan dalih pembangunan. Mari kita sadar. Sebelum semuanya benar-benar musnah.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler