Penyanyi Betrand Peto, yang akrab disapa Onyo, mengaku tidak suka menghamburkan uang untuk barang mewah atau bermerek. Baginya, membeli barang yang benar-benar dibutuhkan jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti gaya hidup glamor.
Di tengah kariernya yang semakin menanjak di industri musik Tanah Air, Betrand justru memilih gaya hidup sederhana. Ia lebih memprioritaskan pengeluaran untuk hal-hal yang bermanfaat dan menunjang aktivitas sehari-hari, seperti perlengkapan sepak bola atau kebutuhan syuting.
"Aku tipe orang yang kalau misalkan bukan lebih ke boros ya, tapi aku tuh lebih memilih beli barang yang aku butuh saja," ucap Betrand, dikutip dari Tribun Seleb.
Bantu Pedagang Kecil
Putra Ruben Onsu ini juga mengaku senang membantu masyarakat kecil yang sedang berjuang mencari penghasilan. Salah satu caranya adalah dengan membeli dagangan dari pedagang kaki lima.
"Kan memang kita tahu sekarang ekonomi lagi kurang baik juga kan. Nah, aku ketika lihat pedagang kayak gitu, ya aku berusaha untuk membantu sebisa aku," ungkap Onyo.
Keputusan ini tidak lepas dari pengalaman hidupnya di masa lalu. Betrand pernah menjalani kehidupan yang sederhana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia bahkan sempat berjualan kayu bakar seharga Rp 5.000 per ikat dan menjajakan kue bakpao untuk membiayai sekolah dan uang jajannya.
Pengalaman pahit itu membuatnya mengerti betapa berharganya uang. "Aku tahu posisinya gimana kalau misalkan dagangan enggak laku. Sama kayak aku dulu waktu cari tambahan buat bisa sekolah, buat bisa jajan, pasti aku jualan kue," kenangnya.
Kini, dengan kesuksesan yang diraihnya, Betrand tetap rendah hati dan tidak silau oleh gemerlap dunia hiburan. Ia sedang menjajal kemampuan aktingnya dengan debut di sinetron "Ternyata Ini Cinta".
Artikel Terkait
Di Tengah Konflik dengan Ruben Onsu, Sarwendah Ungkap Rindu Mendalam pada Sang Ayah
Nanda Persada Ingatkan Ruben Onsu dan Sarwendah Jaga Mental Anak di Tengah Konflik
Denny Sumargo Buka Suara soal Hujatan ke Anak dan Istri di Tengah Polemik Ruben Onsu
Ruben Onsu Buka Luka Masa Kecil: Trauma Dibuang karena Miskin