Kehidupan seksual tetap menjadi bagian penting dari kualitas hidup, termasuk bagi pasangan lanjut usia (lansia). Berhubungan intim di usia senja bahkan diketahui dapat memberikan manfaat bagi kesehatan fisik maupun mental. Namun, perubahan kondisi tubuh akibat penuaan membuat pasangan lansia perlu lebih berhati-hati dalam memilih posisi bercinta agar terhindar dari cedera.
Seiring bertambahnya usia, kepadatan tulang berkurang, otot dan sendi menjadi lebih kaku, serta keseimbangan tubuh menurun. Kondisi tersebut membuat beberapa posisi seksual yang sebelumnya terasa nyaman justru berisiko menimbulkan nyeri hingga cedera.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aktivitas seksual pada usia lanjut dapat membantu menjaga keintiman pasangan, meningkatkan suasana hati, mengurangi stres, hingga mendukung kesehatan jantung selama dilakukan sesuai kondisi fisik masing-masing. Meski demikian, para ahli mengingatkan agar pasangan lansia menyesuaikan aktivitas seksual dengan kemampuan tubuh dan berkonsultasi dengan dokter apabila memiliki riwayat penyakit tertentu.
Posisi yang Perlu Diwaspadai
Posisi misionaris termasuk salah satu posisi yang perlu dilakukan dengan hati-hati, terutama ketika salah satu pasangan menopang beban tubuh pasangannya. Pakar seks dan keintiman Annette Benedetti menjelaskan bahwa pada perempuan yang telah menopause, kepadatan tulang cenderung menurun sehingga tekanan berlebih pada area pinggul dan panggul dapat meningkatkan risiko cedera. Selain itu, perubahan pada jaringan vagina akibat penuaan juga dapat membuat penetrasi terasa lebih tidak nyaman dan meningkatkan risiko lecet atau perdarahan apabila dilakukan terlalu dalam atau terlalu kuat.
Posisi doggy style juga dinilai kurang ideal bagi sebagian lansia, terutama mereka yang memiliki radang sendi, riwayat cedera lutut, atau gangguan keseimbangan. Posisi ini memberikan tekanan cukup besar pada lutut, pergelangan tangan, dan punggung bawah. Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat memicu nyeri sendi atau memperburuk keluhan yang sudah ada. Di sisi lain, perubahan hormonal setelah menopause juga membuat jaringan vagina menjadi lebih tipis dan sensitif sehingga penetrasi dari posisi ini berpotensi menimbulkan rasa tidak nyaman apabila tidak dilakukan dengan hati-hati.
Posisi berdiri membutuhkan keseimbangan, kekuatan otot inti, serta koordinasi tubuh yang baik. Pada lansia, kemampuan tersebut umumnya telah berkurang sehingga risiko terpeleset atau terjatuh menjadi lebih tinggi. Bagi pasangan yang memiliki gangguan keseimbangan, osteoporosis, maupun penyakit jantung, posisi ini sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan risiko cedera.
Tetap Intim dengan Aman
Meski terdapat beberapa posisi yang kurang disarankan, bukan berarti kehidupan seksual harus berhenti ketika memasuki usia lanjut. Dengan melakukan penyesuaian, pasangan tetap dapat menikmati hubungan intim secara aman dan nyaman.
Penggunaan bantal atau penyangga dapat membantu mengurangi tekanan pada sendi dan punggung. Memperpanjang foreplay serta menggunakan pelumas juga dapat meningkatkan kenyamanan, terutama bagi perempuan yang mengalami kekeringan vagina setelah menopause.
Yang tidak kalah penting adalah menjaga komunikasi terbuka dengan pasangan mengenai kenyamanan, rasa sakit, maupun batas kemampuan masing-masing. Jika memiliki penyakit kronis seperti gangguan jantung, osteoporosis, atau pernah menjalani operasi sendi, konsultasi dengan dokter sebelum melakukan aktivitas seksual juga sangat dianjurkan.
Dengan pendekatan yang tepat, hubungan intim di usia senja tetap dapat menjadi bagian dari kehidupan yang sehat sekaligus mempererat hubungan emosional antara pasangan.
Artikel Terkait
Program Renovasi Rumah untuk Lansia di Desa Merapu, Wujudkan Hunian Sehat dan Layak
Ratusan Lansia Rela Antre Sejak Subuh demi Kartu Gratis TransJakarta
Celah Hukum di Balik Tanda Tangan Lansia: Saat Pikun Belum Dianggap Tak Cakap
Terapi Menulis untuk Lansia: Merawat Kognitif dan Meredakan Stres