Mendongeng di Festival Hari Anak, Wamen Diktisaintek Ajak Anak Pahami Nilai Kehidupan

- Minggu, 26 Juli 2026 | 20:48 WIB
Mendongeng di Festival Hari Anak, Wamen Diktisaintek Ajak Anak Pahami Nilai Kehidupan

Di tengah teriknya siang di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta, anak-anak yang mengikuti sesi mendongeng di Festival Hari Anak 2026 tetap duduk rapi dan antusias. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof Stella Christie, hadir membawakan dua cerita pada Minggu (26/7) itu, ditemani putranya, Bayu Czech (9), yang turut menjadi pendengar.

Sebelum memulai dongeng, Prof Stella mengajak anak-anak berdialog ringan. Suasana terasa hangat dan interaktif. Sesekali ia melempar pertanyaan yang langsung disambut antusias para peserta. "Dongeng adalah metode bonding, sekaligus menambah kecerdasan untuk anak," ujarnya.

Ekspresi wajah dan intonasi penuh penghayatan membuat anak-anak larut dalam setiap alur cerita. Tawa dan jawaban spontan beberapa kali terdengar selama sesi berlangsung.

Dongeng pertama yang dibawakan adalah kisah rakyat Malin Kundang. Lewat cerita itu, Prof Stella mengajak anak-anak memahami pentingnya menghormati dan tidak durhaka kepada orang tua. Tak hanya mendengarkan, anak-anak juga diajak berdiskusi mengenai pesan moral yang terkandung dalam cerita sehingga suasana terasa lebih hidup.

Dongeng kedua berjudul Hibernasi dan Kemampuan Spesial Diri Sendiri, karya Bayu Czech yang terinspirasi dari pengalaman pribadinya saat bersekolah di China. Cerita itu mengisahkan seorang anak bernama Lintang yang hidup di negeri tempat semua orang bisa berhibernasi, namun ia sendiri tidak bisa. Karena dianggap berbeda, orang tuanya meminta Lintang merahasiakan kemampuannya. Namun ketika ia bercerita kepada teman-temannya, ia justru diejek dan dikucilkan.

Hingga suatu hari, gempa bumi besar melanda saat seluruh penduduk berhibernasi. Hanya Lintang yang terjaga. Ia bekerja keras memperbaiki kerusakan dan memulihkan desanya seorang diri. Saat musim semi tiba, penduduk terkejut melihat desa telah pulih dan menyadari Lintanglah penyelamatnya. Namun, masih ada yang menuduhnya sebagai penyebab bencana. Pada akhirnya, Lintang memilih hidup di gunung sambil berpegang pada keyakinannya sendiri.

Melalui dongeng itu, Bayu ingin menyampaikan bahwa setiap anak memiliki keunikan yang tidak perlu disembunyikan. Seseorang juga tidak perlu hidup demi pengakuan orang lain. "Dengarkan suara hati sendiri," menjadi pesan penutup dalam kisah tersebut.

Lewat dua cerita yang dibawakannya, Prof Stella menunjukkan bahwa mendongeng bukan sekadar hiburan, tetapi juga cara menyampaikan nilai-nilai kehidupan, membangun kedekatan orang tua dan anak, serta menumbuhkan rasa percaya diri sejak dini.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags