Sejumlah perempuan berpakaian tradisional Cholita meluncur di atas papan skateboard di La Paz, Bolivia, Kamis (16/7/2026). Mereka tampil dengan rok lipit berlapis warna-warni dan topi bowler hitam, busana khas yang justru menjadi simbol perlawanan terhadap diskriminasi.
Kompetisi ini bukan sekadar ajang olahraga. Bagi para peserta, ini adalah panggung untuk membuktikan bahwa perempuan Cholita bisa berprestasi tanpa meninggalkan identitas budaya mereka. Di tengah hiruk-pikuk arena Skater, setiap trik dan gerakan menjadi pernyataan: mereka menolak rasisme, machismo, dan stigma yang selama ini membelenggu.
"Kami ingin menunjukkan bahwa kami bisa eksis di ruang publik, dihormati, dan setara," ujar salah satu peserta. Meski pengakuan terhadap hak-hak perempuan adat mulai tumbuh, jalan menuju kesetaraan masih panjang. Prasangka sosial dan diskriminasi tetap menjadi tantangan sehari-hari yang harus mereka hadapi.