Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan kenaikan pada Selasa (11/8), ditopang oleh kekhawatiran pasokan yang masih membayangi kawasan Timur Tengah. Kondisi ini terjadi seiring memudarnya harapan akan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang sebelumnya sempat meredakan ketegangan geopolitik.
Minyak mentah Brent naik 1,4 persen menjadi USD88,91 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 1,3 persen ke level USD83,20 per barel. Kedua harga acuan tersebut kini berada di level penutupan tertinggi sejak 31 Juli, dan ini merupakan hari kedua berturut-turut kenaikan terjadi.
Sebelumnya, pada Senin (10/8), harga minyak sudah melonjak sekitar 5 persen setelah harapan akan kesepakatan damai antara AS dan Iran mulai pudar. Pasar kini kembali fokus pada potensi gangguan pasokan di jalur-jalur strategis, terutama Selat Hormuz yang menjadi pintu keluar utama minyak dari Teluk Persia.
Ketegangan kembali memuncak setelah sekretaris yang baru ditunjuk untuk Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup selama AS tidak mengubah sikap dan menerima persyaratan Teheran untuk mengakhiri perang. Pernyataan ini, yang dikutip oleh Reuters, menjadi indikasi terkuat sejauh ini bahwa kesepakatan yang tengah dibahas bersama Oman mengenai pembukaan kembali jalur pelayaran tersebut tidak serta-merta akan membuka kembali jalur itu.
AS, menurut pernyataan tersebut, juga harus memenuhi komitmennya dalam nota kesepahaman yang disepakati dengan Iran pada Juni lalu terkait upaya mengakhiri konflik. Sebelum perang dimulai pada 28 Februari, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, menjadikannya jalur paling vital bagi perdagangan energi global.
Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal yang melintasi Selat Hormuz telah turun drastis. Pada Senin (10/8), hanya enam kapal yang tercatat melintas, dibandingkan rata-rata sekitar 11 kapal dalam 10 hari terakhir. Sebelum konflik, jalur tersebut dilalui rata-rata 125 hingga 140 kapal setiap harinya.
Situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas dengan adanya serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap sebuah kapal Arab Saudi yang membawa peralatan militer di Bab el-Mandeb, jalur strategis antara Laut Merah dan Samudra Hindia. Informasi ini dilaporkan oleh kantor berita Saba yang dikelola Houthi. Selain itu, sejumlah sumber juga melaporkan adanya serangan rudal terhadap sebuah kapal kontainer di lepas pantai Pakistan yang diduga merupakan bagian dari serangan AS.
Administrasi Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan sejumlah produsen minyak di Timur Tengah akan kesulitan memulihkan produksi ke level sebelum konflik hingga akhir 2027. Kondisi ini tetap mungkin terjadi meskipun pola perdagangan kembali normal pada awal tahun depan.
Di Libya, kekerasan kembali terjadi di kota strategis Zawiya dan mengganggu aktivitas industri minyak. Perusahaan minyak negara National Oil Corporation (NOC) mengatakan dapat menetapkan status force majeure jika serangan drone terhadap aset energi di kota tersebut terus berlanjut. Libya sendiri merupakan anggota OPEC.
Sementara itu, Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) kembali menawarkan minyak mentah melalui tender spot. Ini merupakan tender kedelapan yang diterbitkan sejak awal Juni, ketika perusahaan minyak milik negara Uni Emirat Arab (UEA) tersebut berupaya mengalihkan minyak dari wilayah di dalam Selat Hormuz.
Di Eropa, militer Ukraina pada Selasa (11/8) menyatakan telah menyerang sebuah kilang minyak di kota Orsk, Rusia. Orsk merupakan kota terbesar kedua di wilayah Orenburg dan menjadi salah satu pusat industri penting di kawasan tersebut.
Artikel Terkait
Senator AS: Trump Kalah Perang Lawan Iran, Negeri Semakin Lemah
Wall Street Melemah, Kekhawatiran Selat Hormuz Kembali Menekan Pasar
Trump Klaim AS Kuasai Penuh Selat Hormuz dan Bersihkan Ranjau Iran
Rupiah Terus Tertekan, Dolar AS Tembus Rp17.861