Laba BCA Syariah Naik 9,2 Persen Jadi Rp 109,4 Miliar

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:48 WIB
Laba BCA Syariah Naik 9,2 Persen Jadi Rp 109,4 Miliar

PT Bank BCA Syariah membukukan laba setelah pajak sebesar Rp 109,4 miliar pada semester pertama tahun ini. Capaian tersebut meningkat 9,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp 100,1 miliar.

Direktur BCA Syariah, Pranata, mengungkapkan pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh peningkatan pendapatan pembiayaan seiring dengan melesatnya outstanding pembiayaan hingga 20,5 persen secara tahunan. Pendapatan pembiayaan tercatat naik 16,6 persen menjadi Rp 512,9 miliar pada Juni 2026, dari sebelumnya Rp 439,8 miliar pada Juni 2025.

"Kalau kita lihat financing income kita tumbuh 16,6 persen seiring dengan pertumbuhan pembiayaan," kata Pranata dalam gelaran Media Update Kinerja BCA Syariah Semester I 2026 di Wisma BCA Syariah, Jakarta Timur, Selasa (11/8).

Di sisi lain, pendapatan treasury justru turun 4,6 persen menjadi Rp 176,6 miliar. Penurunan ini dipicu oleh turunnya suku bunga Bank Indonesia (BI) yang berdampak langsung pada instrumen treasury jangka pendek dan menengah.

Meski demikian, BCA Syariah berhasil menekan kenaikan biaya dana. Cost of fund memang meningkat 5,8 persen menjadi Rp 267,3 miliar, tetapi angka ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan outstanding funding yang mencapai 10,7 persen. "Funding-nya BCA Syariah tumbuhnya di kisaran 10,7 ya. Tapi cost of fund kita bisa kita manage, kenaikannya hanya di kisaran 5,8," jelas Pranata.

Dengan pengelolaan tersebut, margin income tumbuh 13,4 persen menjadi Rp 422,3 miliar. Pendapatan operasional juga meningkat 14,6 persen menjadi Rp 460 miliar, sementara fee and other income melonjak 30,4 persen menjadi Rp 37,7 miliar. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan transaksi nasabah, termasuk transfer RTGS dan SKN yang tumbuh 74 persen, QRIS yang melesat 280 persen, serta BI-FAST yang naik 135 persen.

KPR Tumbuh 26 Persen

Pembiayaan kepemilikan rumah (KPR) juga menunjukkan kinerja positif. Hingga Juni 2026, KPR BCA Syariah tumbuh 26,1 persen secara tahunan menjadi Rp 1,72 triliun, dari Rp 1,36 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pranata menyebutkan perseroan terus meningkatkan kerja sama dengan developer dan broker untuk mendorong pertumbuhan tersebut.

Selain itu, BCA Syariah menawarkan skema margin yang menarik dengan memberikan kepastian cicilan hingga tenor 15 tahun. "Kalau di kita itu bisa 7,5 (EFR/suku bunga efektif) sampai lunas 15 tahun nanti tetap 7,5. Jadi kepastian itu juga menarik bagi nasabah kita," ujarnya.

NPF Naik Tipis

Dari sisi kualitas pembiayaan, rasio Non-Performing Financing (NPF) tercatat naik tipis menjadi sekitar 2,2 persen pada Juni 2026. Direktur BCA Syariah, Ina Widjaja, memastikan rasio tersebut masih dalam level yang terkendali, meskipun tantangan terutama dirasakan nasabah dari segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

"Kita akan melakukan hal-hal yang sebisa mungkin supaya nasabah-nasabah kita ini bisa menghadapi semua kesulitan-kesulitan yang ada di dalam ekonomi, di dalam semester kedua ini. Sehingga kita bisa menjaga NPF kita untuk bisa tetap di bawah 2 persen," terangnya.

Siap Naik ke KBMI 2

BCA Syariah juga tengah menyiapkan diri untuk naik kelas dari Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 1 menjadi KBMI 2, apabila mendapatkan tambahan modal. Direktur BCA Syariah, Eduard Guntoro Purba, mengatakan hal ini sejalan dengan imbauan OJK terkait penguatan finansial dan konsolidasi bank dalam kelompok KBMI 1.

"Sifatnya berupa imbauan dan belum ditetapkan apakah KBMI 1 akan dihapus sehingga naik ke KBMI 2. Tapi yang pasti bahwa dalam himbauan itu juga agar bank-bank di KBMI 1 melakukan review menyeluruh terhadap kemampuan keuangannya, struktur dan rencana jangka panjangnya," ujarnya.

Penguatan permodalan dapat dilakukan melalui konsolidasi, kolaborasi, peningkatan modal secara organik, maupun langkah inorganik seperti tambahan setoran modal atau akuisisi. Selain itu, bank juga diminta memperkuat infrastruktur, kapasitas, dan tata kelola perusahaan.

Sementara itu, aset BCA Syariah hingga April 2026 tumbuh 18,1 persen, dan funding tumbuh sekitar 18 persen, lebih tinggi dibandingkan industri perbankan syariah dan nasional yang tumbuh sekitar 12 persen. Beban operasional meningkat 20,3 persen menjadi Rp 293,9 miliar, terutama untuk penguatan teknologi informasi seperti core banking, penggunaan cloud, pengembangan fitur mobile banking, serta sistem keamanan dan perlindungan data.

"Ini banyak disebabkan oleh penguatan di teknologi informasi. Tentunya core banking kita perkuat, lalu juga pengamanan terhadap penyimpanan dan data yang kita gunakan cloud. Lalu juga fitur-fitur dari mobile banking kita terus tambah," jelas Pranata. Dengan berbagai upaya tersebut, laba sebelum pajak BCA Syariah tumbuh 9,5 persen menjadi Rp 140,6 miliar per Juni 2026.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags