Bank Sentral Asia Cari Strategi Baru Jaga Mata Uang di Tengah Ketidakpastian Global

- Senin, 10 Agustus 2026 | 03:06 WIB
Bank Sentral Asia Cari Strategi Baru Jaga Mata Uang di Tengah Ketidakpastian Global

Bank sentral di sejumlah negara berkembang Asia mulai mencari cara baru untuk menjaga stabilitas mata uang tanpa terus mengandalkan cadangan devisa. Langkah ini ditempuh di tengah ketidakpastian global, mulai dari konflik di Timur Tengah hingga prospek suku bunga Amerika Serikat (AS) yang bertahan tinggi dalam waktu lama.

Ketegangan antara Iran dan AS sempat mendorong harga minyak dunia melonjak. Kondisi tersebut menjadi tekanan tambahan bagi negara-negara Asia yang masih bergantung pada impor energi. Dampaknya, sejumlah mata uang Asia masuk dalam jajaran mata uang dengan kinerja terburuk sepanjang tahun ini.

Mengutip Bloomberg, Minggu (9/8), sejumlah bank sentral di kawasan Asia kini memperluas strategi. Selain menaikkan suku bunga dan melakukan intervensi di pasar valuta asing (valas), mereka berupaya menarik lebih banyak aliran dolar dari dalam maupun luar negeri.

Salah satunya India yang berhasil menghimpun hampir USD 40 miliar atau sekitar Rp 715 triliun dari masyarakat diaspora melalui simpanan dolar dengan imbal hasil tinggi. Langkah tersebut ikut menopang pemulihan rupee setelah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah pada Mei.

Selain itu, Korea Selatan juga mendorong perusahaan untuk mempercepat repatriasi atau membawa kembali pendapatan dalam dolar ke dalam negeri. Kebijakan tersebut membantu won mencatat penguatan bulanan terbesar sejak 2022.

Sementara itu, Indonesia menarik sekitar USD 1,6 miliar atau sekitar Rp 28,6 triliun aliran dana ke pasar obligasi dalam dua bulan terakhir. Pemerintah juga memberikan sejumlah insentif untuk menarik kembali minat investor asing terhadap aset keuangan domestik.

Lebih lanjut, Taiwan juga mengambil langkah serupa dengan meminta eksportir menjual dolar AS pada saat mata uang lokal mengalami tekanan. Strategi tersebut menjadi alternatif bagi bank sentral untuk mendapatkan pasokan valuta asing tanpa harus terus menjual cadangan devisa di pasar.

“Berbagai faktor memang mendorong kebijakan ini, tetapi pada dasarnya semuanya bermuara pada upaya mempertahankan cadangan devisa sebaik mungkin di tengah volatilitas dan ketidakpastian yang secara struktural lebih tinggi,” kata Head of Asia FX and Rates Strategy BofA Global Research, Claudio Piron.

Claudio menilai negara-negara Asia juga harus menyeimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar dengan kebutuhan mempertahankan likuiditas domestik. Oleh karena itu, menarik aliran dana masuk menjadi salah satu strategi penting.

Rupiah Masuk 5 Mata Uang Terburuk

Tekanan terhadap mata uang Asia terlihat dari kinerja sepanjang tahun ini. Rupiah Indonesia, rupee India, dan baht Thailand masuk ke dalam lima mata uang dengan kinerja terburuk dari 22 mata uang negara berkembang yang dipantau Bloomberg.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan Amerika Latin. Peso Kolombia, real Brasil, dan peso Meksiko justru menjadi mata uang dengan kinerja terbaik.

Salah satu keunggulan negara-negara Amerika Latin adalah tingkat suku bunga yang relatif lebih tinggi dibandingkan sebagian besar negara berkembang lainnya. Selain itu, banyak negara di kawasan tersebut merupakan eksportir minyak sehingga lebih terlindungi ketika harga energi meningkat.

Head of Investment Management Western Asset Management di Singapura, Desmond Fu, mengungkapkan jika ditinjau dari sisi imbal hasil total, mata uang Amerika Latin mungkin masih memiliki keunggulan karena imbal hasil yang lebih tinggi.

Namun, menurut dia, sejumlah mata uang Asia berpeluang mempersempit jarak apabila imbal hasil obligasi AS mulai stabil, gangguan pasokan energi tidak kembali memburuk, dan siklus investasi kecerdasan buatan (AI) tetap menopang ekspor teknologi serta belanja modal di kawasan tersebut.

Dolar AS dan The Fed Jadi Penentu

Ke depan, arah kebijakan moneter Amerika Serikat masih menjadi salah satu faktor utama yang menentukan pergerakan mata uang Asia. Pasar mencermati sikap Federal Reserve setelah tiga pejabat The Fed berbeda pendapat dalam keputusan bulan lalu untuk mempertahankan suku bunga. Mereka juga memperingatkan bahwa terlambat mengendalikan inflasi dapat memaksa bank sentral AS mengambil langkah yang lebih agresif di kemudian hari.

Michael Wan, Senior Currency Analyst MUFG Bank di Singapura, mengatakan bank sentral Asia kini memilih untuk menyimpan lebih banyak amunisi kebijakan menghadapi ketidakpastian global.

“Bank sentral Asia mempertahankan lebih banyak amunisi karena ketidakpastian yang lebih besar terkait berbagai peristiwa global, termasuk arah harga minyak, El Nino, imbal hasil AS, dan dolar,” ujar Michael.

Dengan kondisi tersebut, Michael menilai menarik lebih banyak aliran dolar dapat menjadi salah satu strategi yang kemungkinan terus digunakan negara-negara Asia.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags