CoreWeave Garap Pasar Asia, Bangun Tiga Pusat Data di Indonesia

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 10:36 WIB
CoreWeave Garap Pasar Asia, Bangun Tiga Pusat Data di Indonesia

CoreWeave, perusahaan penyedia layanan cloud berbasis kecerdasan buatan (AI) asal Amerika Serikat, resmi memasuki pasar Asia dengan membangun tiga pusat data pertamanya di Indonesia. Langkah ini menandai ekspansi besar pertama perusahaan di kawasan tersebut.

Berdasarkan pernyataan resmi yang dikutip Bloomberg pada Rabu (5/8), ketiga pusat data itu akan memiliki total kapasitas 360 megawatt (MW) dan ditargetkan mulai beroperasi pada 2028. Perusahaan berencana mengucurkan investasi miliaran dolar AS untuk proyek ini, meski belum merinci nilai pastinya.

Kabar ekspansi ini langsung disambut positif oleh pasar. Saham CoreWeave sempat melonjak hingga 7 persen menjadi USD 91,75 di bursa New York pada perdagangan Selasa (4/8). Sepanjang tahun ini hingga penutupan perdagangan Senin (3/8), nilai saham perusahaan telah naik sekitar 20 persen.

Saat ini, CoreWeave mengoperasikan 49 pusat data di Amerika Utara dan Eropa yang melayani pelanggan besar seperti OpenAI, Meta Platforms, dan Microsoft. Perusahaan yang melantai di bursa melalui salah satu penawaran saham terbesar pada 2025 itu memiliki kapasitas listrik aktif lebih dari 1 gigawatt (GW) serta tambahan 3,5 GW yang telah dikontrak.

CoreWeave juga tengah memperluas kapasitas pusat datanya untuk memenuhi tingginya permintaan terhadap chip AI buatan Nvidia, sekaligus meningkatkan penjualan perangkat lunak dan layanan bernilai tambah kepada pelanggan. Manajemen menyatakan kapasitas layanan AI untuk tahun ini hampir seluruhnya telah terjual. Karena itu, perusahaan terus mempercepat pembangunan pusat data baru dan mengamankan berbagai skema pembiayaan guna mendukung ekspansi.

Pusat data di Indonesia akan menyasar laboratorium riset, perusahaan rintisan (startup), pelaku usaha di Asia Tenggara, hingga pelanggan global. Indonesia dinilai semakin strategis sebagai pusat pengembangan AI di kawasan, didorong oleh meningkatnya adopsi layanan cloud, kebijakan lokalisasi data yang semakin ketat, serta investasi besar dari perusahaan teknologi AS seperti Amazon dan Microsoft.

Berdasarkan data Research and Markets, nilai pasar pusat data Indonesia diproyeksikan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi USD 6,08 miliar pada 2031. Sebelumnya, Amazon telah berkomitmen menginvestasikan USD 5 miliar untuk pengembangan infrastruktur AI dan cloud di Indonesia pada 2021. Sementara itu, Microsoft berencana menanamkan investasi USD 1,7 miliar hingga 2028, yang diperkirakan bakal menciptakan puluhan ribu lapangan kerja sekaligus memperkuat posisi RI dalam ekonomi digital regional.

Menurut CoreWeave, operasional tiga pusat data tersebut akan dikelola oleh tim lokal, sehingga diharapkan turut mendorong perkembangan industri pusat data dan ekosistem AI di Tanah Air.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags