Rupiah Menguat Tipis ke Rp18.013 per Dolar AS, Tensi Timur Tengah Mereda

- Senin, 03 Agustus 2026 | 10:50 WIB
Rupiah Menguat Tipis ke Rp18.013 per Dolar AS, Tensi Timur Tengah Mereda

Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka menguat tipis 0,05 persen ke level Rp18.013 per dolar AS pada awal perdagangan Senin (3/8/2026). Penguatan ini sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang juga menguat, sementara indeks dolar AS (DXY) melemah 0,22 persen ke posisi 99,697 pada pukul 09.00 WIB.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah didorong oleh meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah setelah kabar pembatalan rencana aksi militer oleh AS. "Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh harapan damai di Timur Tengah setelah Trump mengatakan pada Minggu pagi bahwa ia telah membatalkan rencana serangan terhadap Iran," ujarnya, Senin (3/8/2026).

Meski dibuka menguat, laju apresiasi rupiah diprediksi terbatas. Pelaku pasar masih wait and see menanti sejumlah indikator ekonomi domestik yang dijadwalkan rilis siang ini. Untuk perdagangan hari ini, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Fokus pada Data Ekonomi Domestik

Fokus utama investor tertuju pada rilis data neraca perdagangan Indonesia yang diproyeksikan kembali defisit sekitar USD0,8 miliar. Realisasi angka tersebut dicermati pasar karena dapat mengindikasikan besarnya tekanan pada kinerja sektor eksternal nasional di tengah dinamika ekonomi global.

Selain neraca perdagangan, pelaku pasar juga menantikan rilis data inflasi tahunan (year-on-year/YoY) yang diperkirakan melandai ke level 3,2 persen. Tren penurunan inflasi ini dinilai dapat memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan arah kebijakan moneter yang mendukung pertumbuhan ekonomi. "Apabila data lebih baik dari perkiraan, bisa mendukung baik rupiah dan IHSG," kata Lukman.

Dari sentimen global, perhatian investor masih tertuju pada prospek kebijakan suku bunga The Fed. Rangkaian data ekonomi AS yang menunjukkan tanda-tanda perlambatan aktivitas ekonomi memicu spekulasi bahwa bank sentral AS tersebut berpotensi melonggarkan kebijakan moneternya dalam beberapa bulan mendatang.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags