Harga emas dunia diperkirakan akan bergerak konsolidasi pada pekan ini, seiring pelaku pasar menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dapat menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Fokus pasar pun bergeser dari inflasi yang mulai melandai ke kondisi pasar tenaga kerja AS.
Sejumlah indikator penting akan dirilis sepanjang pekan, mulai dari ISM Manufacturing PMI, JOLTS Job Openings, ADP Employment Change, ISM Services PMI, klaim pengangguran mingguan, hingga laporan Nonfarm Payrolls (NFP) Juli yang dijadwalkan keluar pada Jumat. Data-data tersebut dinilai menjadi penentu arah pergerakan emas dalam jangka pendek.
Pada akhir pekan lalu, harga emas spot ditutup melemah 1,45 persen ke level USD4.044,28 per troy ons, setelah dolar AS menguat dari posisi terendahnya dalam lebih dari satu bulan. Secara mingguan, emas terkoreksi tipis 0,21 persen. Namun, sepanjang Juli logam mulia masih mencatat kenaikan 0,92 persen, menjadi kenaikan bulanan pertama dalam lima bulan terakhir.
Survei mingguan Kitco News menunjukkan para analis belum memiliki pandangan yang seragam mengenai arah harga emas. Analis senior Barchart.com, Darin Newsom, menilai emas masih bergerak dalam pola sideways tanpa perubahan berarti.
"Pergerakan masih sideways. Tidak ada yang berubah dari pasar emas, dan justru itulah yang membuat fase konsolidasi ini semakin menarik," ujarnya.
Sementara itu, Senior Market Strategist Forex.com James Stanley masih melihat peluang penguatan. Menurutnya, level psikologis USD4.000 per troy ons sejauh ini masih mampu menjadi area pertahanan yang kuat bagi harga emas. Di sisi lain, Chief Market Strategist SIA Wealth Management Colin Cieszynski mengambil sikap netral. Ia menilai emas masih berada dalam fase konsolidasi di sekitar level USD4.000 per troy ons sehingga belum memberikan sinyal arah yang jelas.
Hasil survei Kitco terhadap analis Wall Street juga mencerminkan ketidakpastian tersebut. Dari 17 analis yang berpartisipasi, lima orang atau 29 persen memperkirakan harga emas naik pada pekan ini. Sebanyak enam analis atau 35 persen memprediksi harga melemah, sementara enam analis lainnya memperkirakan emas bergerak mendatar.
Pandangan investor ritel pun mulai beragam. Dari 184 responden dalam jajak pendapat daring Kitco, sebanyak 47 persen memperkirakan harga emas naik, 30 persen memprediksi turun, sedangkan 23 persen menilai emas akan tetap berkonsolidasi.
Pelaku pasar kini menantikan rangkaian data ekonomi AS yang berpotensi menjadi katalis utama. Pekan ini diawali dengan rilis ISM Manufacturing PMI Juli pada Senin, disusul data JOLTS Job Openings pada Selasa. Selanjutnya, pasar akan mencermati data ADP Employment Change dan ISM Services PMI pada Rabu, kemudian data klaim pengangguran mingguan pada Kamis.
Perhatian pasar akhirnya tertuju pada laporan NFP Juli yang akan dirilis Jumat, karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed.
Artikel Terkait
Harga Emas Diproyeksi Fluktuatif, Support dan Resistance Terpantau di Level Ini
Dolar AS Terpuruk di Juli, Tertekan Data Ekonomi dan Kebijakan The Fed
Harga Emas Dunia Tertekan Dolar, tapi Cetak Kenaikan Bulanan Pertama dalam Lima Bulan
Harga Emas Menguat Hampir 1 Persen, Dolar Melemah dan Inflasi AS Melandai