PT ABM Investama Tbk (ABMM) membukukan laba bersih sebesar USD39,4 juta atau setara Rp709 miliar pada semester I-2026. Angka ini meningkat 42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan laba tersebut ditopang oleh peningkatan volume penjualan batu bara, percepatan produksi dari operasi tambang di Aceh, serta stabilisasi kinerja bisnis jasa kontraktor pertambangan.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian untuk enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026, pendapatan perseroan tercatat USD506,2 juta, relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun adjusted EBITDA mencapai USD346,9 juta, naik 6,4 persen secara tahunan.
Direktur ABM Investama, Hans Manoe, mengatakan bahwa peningkatan profitabilitas tidak terlepas dari keberhasilan meningkatkan produksi tambang batu bara dan perbaikan kinerja kontraktor pertambangan.
"Perseroan berhasil mencatatkan peningkatan profitabilitas pada periode ini yang didorong oleh keberhasilan peningkatan produksi operasi tambang batu bara dan stabilisasi bisnis kontraktor pertambangan. Meskipun kondisi industri masih menghadapi berbagai tantangan, harga batu bara yang tetap kondusif memberikan peluang bagi Perseroan untuk memanfaatkan momentum tersebut melalui keunggulan operasional," ujar Hans dalam keterangan resmi, Minggu (2/8/2026).
Dari sisi operasional, volume coal getting ABM Investama meningkat 14,2 persen menjadi 17,9 juta ton pada semester I-2026. Kenaikan ini terutama didorong oleh peningkatan produksi di salah satu lokasi operasi di Kalimantan Selatan. Sementara itu, volume overburden removal turun 12,6 persen menjadi 98 juta bcm pada periode yang sama.
Peningkatan volume penjualan batu bara juga didukung oleh produksi tambang di Aceh yang meningkat pada kuartal II-2026, memberikan kontribusi positif terhadap profitabilitas perseroan.
Selain batu bara, segmen usaha lain juga mencatatkan kinerja solid. Bisnis perdagangan bahan bakar membukukan volume penjualan 141,9 juta liter sepanjang semester I-2026.
Adapun bisnis logistik mempertahankan tingkat ketepatan waktu pengiriman (on-time delivery) sebesar 95,6 persen. Sementara itu, bisnis jasa dan fabrikasi mencatatkan tingkat ketepatan pengiriman (on-time in-full delivery) sebesar 84,7 persen.
Prospek Paruh Kedua 2026
Memasuki paruh kedua 2026, Hans memperkirakan peningkatan produksi dari operasi tambang di Aceh masih akan berlanjut. Perseroan juga tengah melanjutkan proses perizinan untuk aset tambang batu bara baru di Kalimantan Tengah yang ditargetkan selesai pada akhir 2026.
Selain memperkuat bisnis batu bara, perseroan terus memperluas portofolio usaha melalui pengembangan bisnis non-batu bara yang memiliki keterkaitan strategis dengan ekosistem pertambangan.
Pada lini bisnis logistik, anak usaha perseroan berhasil memperoleh kontrak jasa logistik jangka panjang dari salah satu pelanggan utama (A-list customer). Kontrak tersebut diharapkan dapat memperkuat diversifikasi pendapatan dan mendukung pertumbuhan jangka panjang.
Hans menegaskan, perseroan tetap fokus memperkuat ekosistem bisnis melalui perolehan kontrak strategis, pengembangan operasional, serta penerapan strategi yang disiplin untuk menciptakan nilai bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan.
"Kami tetap fokus memperkuat ekosistem bisnis melalui perolehan kontrak-kontrak strategis pada segmen logistik, dengan tetap memperhatikan kepatuhan terhadap dinamika regulasi dan menjalankan strategi secara disiplin guna mendukung pertumbuhan berkelanjutan serta penciptaan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," kata Hans.
Artikel Terkait
Laba Bersih RMKE Melonjak 86,2 Persen di Semester I-2026
Laba BUMI Melonjak 87,4 Persen pada Semester I-2026
Harga Batu Bara, Timah, Nikel, dan CPO Kompak Menguat
Harga Komoditas Melemah, Batu Bara dan Nikel Tertekan