Harga bahan bakar minyak (BBM) dunia diperkirakan akan tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang, meskipun harga minyak mentah mengalami penurunan. Penyebab utamanya adalah terbatasnya kapasitas pengolahan minyak global, yang membuat pasokan BBM tidak mampu mengikuti permintaan.
ExxonMobil Holdings Corp dan Chevron Corp memperingatkan bahwa perang di Rusia dan Timur Tengah telah membuat kapasitas kilang minyak dunia berada dalam kondisi sangat terbatas. Akibatnya, harga bensin, diesel, dan bahan bakar pesawat tidak lagi bergerak sejalan dengan harga minyak mentah.
Mengutip Bloomberg, Minggu (2/8), hubungan antara harga BBM dan minyak mentah mulai terputus karena banyak kapasitas kilang yang tidak dapat beroperasi atau tidak bisa memasok pasar global. Chief Financial Officer (CFO) ExxonMobil, Neil Hansen, mengatakan bahwa hambatan terbesar dalam sistem energi saat ini justru berada di sektor pengolahan minyak.
"Titik kendala dalam sistem energi saat ini adalah pengolahan minyak," kata Hansen dalam sebuah wawancara. Menurut dia, kondisi tersebut mungkin belum sepenuhnya menjadi perhatian pasar.
Berdasarkan data Melius Research, hampir 10 persen kemampuan dunia untuk mengolah minyak mentah secara efektif tidak dapat digunakan. Kondisi ini dipengaruhi oleh Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup, berlanjutnya serangan Ukraina terhadap kilang-kilang Rusia, serta larangan ekspor China.
Akibatnya, kilang-kilang yang masih tersedia harus beroperasi dengan kapasitas sangat tinggi untuk memenuhi permintaan. Hal ini membuat produsen hampir tidak memiliki ruang untuk meningkatkan produksi BBM, meskipun minyak mentah tersedia untuk diolah. Situasi ini mendorong margin pengolahan BBM mencapai rekor tinggi, yang menguntungkan pemilik kilang, tetapi pada saat yang sama meningkatkan biaya yang harus ditanggung konsumen.
Analis Goldman Sachs, Neil Mehta, mengatakan bahwa sektor pengolahan saat ini menjadi hambatan utama dalam rantai pasok minyak. "Pengolahan jelas menjadi hambatan dalam sistem perminyakan saat ini, dan marginnya sangat tinggi," ujar Mehta.
Harga Minyak Turun, BBM Masih Mahal
Fenomena tersebut terlihat di Amerika Serikat (AS). Harga rata-rata bensin telah naik hingga melampaui USD 4 per galon. Harga bensin di tingkat konsumen saat ini hanya sekitar 10 persen di bawah level tertingginya pada Mei 2026, padahal harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) telah merosot sekitar 26 persen dari level tertingginya sepanjang 2026.
Kondisi serupa terjadi pada diesel. Harga diesel di tingkat konsumen hanya turun sekitar 6 persen dari level tertinggi tahun ini, jauh lebih kecil dibandingkan penurunan harga WTI. CEO Chevron, Mike Wirth, mengatakan bahwa tekanan paling besar saat ini terjadi pada kelompok bahan bakar distilat menengah atau middle distillates, yang mencakup diesel, bahan bakar pesawat, dan minyak pemanas. Pasar bahkan berpotensi semakin ketat ketika negara-negara di belahan bumi utara mulai menambah persediaan minyak pemanas menjelang musim dingin.
"Saya kira kita akan melihat tekanan kenaikan pada harga produk memasuki kuartal III dan mungkin berlanjut setelahnya," kata Wirth. Sementara itu, Senior Portfolio Manager Tortoise Capital Advisors, Rob Thummel, mengatakan bahwa pergerakan harga bensin mulai terlepas dari harga minyak mentah. Harga produk BBM kini semakin ditentukan oleh tingkat persediaan.
Kapasitas Kilang Dunia Makin Ketat
ExxonMobil memperkirakan tekanan tersebut masih akan berlangsung. Perusahaan yang mengoperasikan jaringan kilang terbesar di dunia di luar China itu memperkirakan sekitar 5 juta barel per hari kapasitas pengolahan minyak saat ini tidak dapat menjangkau pasar global. CEO ExxonMobil, Darren Woods, mengatakan bahwa kesenjangan antara kapasitas kilang yang tersedia dan kebutuhan pasar belum pernah serendah saat ini.
Menurut dia, industri membutuhkan waktu untuk bisa keluar dari kondisi ini. Tingginya utilisasi kilang juga menunjukkan minimnya kapasitas cadangan. Kilang ExxonMobil di kawasan Gulf Coast AS beroperasi dengan tingkat utilisasi 95 persen pada kuartal II 2026. Sementara fasilitas Chevron di AS beroperasi pada tingkat 97 persen. Shell bahkan mencatat tingkat operasi kilang sebesar 102 persen pada periode tersebut, meski perusahaan memperkirakan tingkat tersebut turun pada kuartal berikutnya karena pemeliharaan terjadwal.
CFO Chevron, Eimear Bonner, mengatakan bahwa ketidakpastian geopolitik semakin memperketat pasar energi dan menunjukkan pentingnya keandalan pasokan. Menurutnya, kapasitas cadangan yang selama ini mampu meredam volatilitas pasar juga semakin terkuras. "Peredam guncangan yang sampai sekarang mampu mengurangi volatilitas terus terkikis," katanya.
Artikel Terkait
Harga BBM Pertamina Turun per 1 Agustus 2026, Pertamax Jadi Rp15.950 per Liter
Harga BBM per 1 Agustus 2026: Pertamax Turun, Diesel Shell dan Vivo Naik
Pertamina Turunkan Harga BBM Nonsubsidi per 1 Agustus 2026, Berikut Daftar Lengkapnya
Bahlil Minta Pertamina dan SPBU Swasta Segera Sesuaikan Harga BBM Nonsubsidi