PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan laba bersih sebesar USD72,3 juta atau setara Rp1,3 triliun pada semester I-2026. Capaian ini melonjak 87,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD38,6 juta.
Berdasarkan laporan keuangan yang belum diaudit dan dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan perusahaan naik 27,9 persen menjadi USD866,8 juta, dari sebelumnya USD677,9 juta pada semester I-2025. Kenaikan ini ditopang oleh produksi batu bara yang lebih tinggi, efisiensi operasional tambang, serta membaiknya harga jual rata-rata batu bara.
Seiring dengan pertumbuhan pendapatan, laba bruto meningkat 36,3 persen menjadi USD145,9 juta. Adapun laba usaha naik 50,3 persen menjadi USD83,1 juta, dengan marjin usaha yang membaik menjadi 9,6 persen dibandingkan 8,2 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Laba sebelum pajak bahkan melonjak 102,5 persen menjadi USD104,3 juta, sementara laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 188,4 persen menjadi USD58,9 juta dari USD20,4 juta pada semester I-2025.
Dalam rilis resminya, manajemen BUMI menyebut pertumbuhan kinerja ini mencerminkan operating leverage yang kuat. Kenaikan pendapatan sebesar 27,9 persen mampu diterjemahkan menjadi pertumbuhan laba usaha sebesar 50,3 persen dan lonjakan laba sebelum pajak lebih dari dua kali lipat.
Perbaikan profitabilitas tersebut juga didukung oleh peningkatan efisiensi operasional. Rasio kupasan tanah (strip ratio) membaik menjadi 7,5 kali dari sebelumnya 8,1 kali, sementara volume pengupasan tanah penutup (overburden) relatif tidak berubah dibandingkan tahun lalu. Ini menunjukkan perusahaan mampu meningkatkan produksi batu bara tanpa menaikkan aktivitas pengupasan tanah secara signifikan.
Secara operasional, produksi batu bara BUMI meningkat 7,1 persen menjadi 38,5 juta ton pada semester I-2026. Penjualan batu bara tumbuh lebih tinggi, yakni 11,7 persen menjadi 38,8 juta ton. Dengan penjualan yang melampaui produksi, persediaan batu bara turun menjadi 1,7 juta ton dari 2,7 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Harga jual rata-rata FOB batu bara juga mengalami pemulihan sebesar 2,6 persen menjadi USD62,9 per ton, dibandingkan USD61,3 per ton pada semester I-2025.
Untuk tahun 2026, perusahaan menargetkan penjualan batu bara di kisaran 82 juta hingga 84 juta ton, dengan harga jual rata-rata diproyeksikan sebesar USD60 hingga USD62 per ton. Adapun biaya produksi diperkirakan berada pada kisaran USD42 hingga USD44 per ton.
Dengan realisasi penjualan 38,8 juta ton pada enam bulan pertama tahun ini, BUMI menilai perseroan masih berada di jalur yang tepat untuk mencapai target penjualan sepanjang 2026. Sementara itu, harga jual rata-rata semester pertama yang mencapai USD62,9 per ton juga telah berada di kisaran atas panduan tahunan perusahaan.
Ke depan, BUMI berkomitmen untuk melanjutkan perbaikan operasional, menjaga disiplin alokasi modal, serta memperkuat strategi diversifikasi bisnis, termasuk mengintegrasikan aset yang baru diakuisisi di Australia guna meningkatkan ketahanan perusahaan menghadapi siklus komoditas.
Artikel Terkait
Laba ICBP Turun 33% pada Semester I-2026, Arus Kas Tetap Kuat
Bank Neo Commerce Catat Laba Bersih Rp294,85 Miliar di Semester I 2026
Laba SMBC Indonesia Melonjak 40,3 Persen di Semester I-2026
Laba Astra Agro Melonjak 55 Persen di Semester I 2026