Harga Minyak Melonjak 7% Akibat Serangan Udara di Timur Tengah dan Penurunan Stok AS

- Kamis, 30 Juli 2026 | 08:48 WIB
Harga Minyak Melonjak 7% Akibat Serangan Udara di Timur Tengah dan Penurunan Stok AS

Harga minyak mentah dunia melonjak sekitar 7 persen pada Rabu (29/7) setelah serangan udara kembali mengguncang Timur Tengah, memicu kekhawatiran baru akan gangguan pasokan. Kekhawatiran itu diperkuat data pemerintah Amerika Serikat yang menunjukkan persediaan minyak mentah domestik turun ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Kontrak berjangka Brent ditutup naik 6,65 dolar AS atau 7,91 persen menjadi 90,74 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 5,20 dolar AS atau 6,56 persen menjadi 84,46 dolar AS per barel.

AS dan Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak pada Rabu, dengan menyalahkan kelompok tersebut atas serangan pesawat nirawak terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah militer AS menyatakan telah menggagalkan serangan mendadak Iran terhadap pasukan AS di kawasan tersebut. Iran mengatakan telah melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta pangkalan militer AS di Yordania.

Di Mesir, ledakan menghantam sebuah pelabuhan pemuatan gas alam di Laut Mediterania. Perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey, mengatakan sebuah kapal tanker penyimpanan terapung milik perusahaan AS di pelabuhan tersebut terkena serangan drone.

“Pasar kembali dengan cepat memperhitungkan meningkatnya risiko terhadap pasokan di kawasan tersebut,” kata mitra Again Capital, John Kilduff.

Harga minyak melonjak lebih tinggi lagi setelah Presiden Donald Trump, dalam wawancaranya dengan Fox News, menjanjikan akan melakukan serangan lanjutan terhadap Iran. AS juga menjatuhkan putaran baru sanksi terkait Iran dengan menargetkan upaya Teheran untuk “memonetisasi Selat Hormuz”. Departemen Keuangan AS menyatakan sanksi tersebut mencakup 10 entitas dan delapan kapal tanker tambahan.

Selat Hormuz Kembali Menjadi Sorotan

Teheran menolak usulan Oman mengenai pengelolaan bersama Selat Hormuz oleh negara-negara di kawasan, kata seorang pejabat senior Iran kepada Reuters pada Rabu.

“Kami memperkirakan harga minyak Brent akan terus berfluktuasi di kisaran 80 hingga 100 dolar AS per barel dalam waktu dekat seiring konflik di Timur Tengah yang terus memanas dan mereda,” ujar Kepala Riset Energi DBS Bank, Suvro Sarkar.

Hanya sedikit kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz sepanjang pekan ini. Sebanyak lima kapal melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Rabu, yang menjadi jalur alternatif pengiriman minyak Arab Saudi ke Asia, setelah sehari sebelumnya tercatat 39 kapal melintas. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi sejak 19 Juli, tepat sebelum kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi.

Menurut sejumlah sumber regional, kelompok Houthi juga tengah mempertimbangkan untuk mengenakan biaya terhadap kapal-kapal komersial yang berlayar melalui wilayah selatan Laut Merah. Sementara itu, China telah melakukan pembicaraan langsung dengan kelompok tersebut agar kapal-kapal tankernya dapat melintasi kawasan tersebut tanpa menjadi sasaran serangan, kata enam sumber yang mengetahui masalah itu.

“Dari yang saya lihat, keberhasilan mereka menghentikan arus kapal di Bab el-Mandeb tidak seefektif di Selat Hormuz, meskipun tampaknya jumlah kapal yang masuk kini lebih banyak dibandingkan yang keluar,” ujar pakar energi TP ICAP, Scott Shelton.

Para analis mengatakan persediaan minyak mentah AS turun pada pekan lalu karena ekspor energi tetap kuat dan permintaan domestik masih solid. Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan stok minyak mentah turun 7,2 juta barel menjadi 404,5 juta barel pada pekan lalu, level terendah sejak 2018. Sebelumnya, para analis memperkirakan penurunan hanya sebesar 1,3 juta barel.

Sumber Reuters mengatakan faktor lain yang turut menopang harga minyak adalah kemungkinan OPEC menghentikan peningkatan produksi minyak selama tiga bulan mulai Oktober. Kebijakan tersebut diperkirakan akan dilakukan setelah kelompok produsen tersebut menyelesaikan pengembalian pasokan minyak yang sebelumnya dipangkas secara sukarela.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags