Raksasa ritel fesyen online Shein akhirnya mengajukan pencatatan saham perdana (IPO) di Hong Kong, setelah sebelumnya gagal melantai di bursa New York dan London. Draf prospektus diterbitkan pada Minggu (26/7/2026), menunjukkan tekanan pada profitabilitas perusahaan akibat penghapusan bebas bea impor oleh Amerika Serikat.
Pengajuan ini dilakukan setelah Komisi Regulasi Sekuritas China menyetujui permohonan pencatatan saham Shein di Hong Kong pada 10 Juli 2026. Draf prospektus tidak mengungkapkan ukuran penawaran, harga, jumlah dana yang dihimpun, atau jadwal pencatatan yang diharapkan.
Dokumen tersebut memberikan gambaran pertama kepada investor tentang kinerja keuangan Shein. Pendapatan perusahaan meningkat menjadi USD41,8 miliar pada 2025, naik dari USD38,7 miliar pada 2024 dan USD32,1 miliar pada 2023. Namun, laba bersih turun 38,7 persen menjadi USD2,06 miliar pada 2025 dari USD3,365 miliar setahun sebelumnya. Bahkan pada kuartal pertama 2026, Shein mencatatkan kerugian bersih sebesar USD99 juta.
Penurunan ini terutama disebabkan oleh kebijakan AS yang menghapus pengecualian bebas bea "de minimis" pada Mei 2025. Sebelumnya, pengiriman barang bernilai di bawah USD800 dapat masuk ke AS tanpa bea impor. Kini, produk asal China yang dijual Shein dikenakan tarif impor 10 hingga 87,5 persen.
IPO Shein diperkirakan menjadi salah satu pencatatan saham ritel paling menonjol dalam beberapa tahun terakhir, di tengah menurunnya minat investor dan melemahnya pengeluaran konsumen. Keberhasilan IPO ini akan menjadi ujian bagi selera pasar terhadap perusahaan konsumen besar.
Artikel Terkait
Dana IPO Rp2,17 Triliun Cinema XXI Tuntas Digunakan untuk Ekspansi dan Utang
IPO Persib Bandung Masih Terkendala Konsolidasi Aset
Danantara Siapkan IPO Empat BUMN Besar, Kajian Ditargetkan Rampung dalam Setahun
Chelsea dan Juventus Saling Uji di Laga Pramusim Hong Kong