Harga minyak mentah ditutup menguat lebih dari satu persen pada perdagangan Senin setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi. Pelaku pasar mencermati peluang dimulainya kembali perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di tengah keputusan kelompok Houthi memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Konflik di Timur Tengah kembali memanas selama akhir pekan. AS melancarkan serangan ke Iran untuk malam kesembilan berturut-turut, sementara Kuwait dan Bahrain melaporkan adanya serangan baru dari Iran.
Harga minyak mentah Brent ditutup naik 1,3 persen menjadi USD89,22 per barel, setelah sempat menyentuh USD91,42, level tertinggi sejak 11 Juni. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat 0,9 persen menjadi USD83,23 per barel. Sepanjang sesi, WTI sempat mencapai USD85,39, level tertinggi sejak 12 Juni.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa para mediator telah menyampaikan proposal untuk meredakan konflik dengan AS. Usulan tersebut mencakup gencatan senjata selama 10 hari guna membuka jalan bagi pemulihan kesepakatan sementara yang dicapai bulan lalu.
"Meski konflik masih jauh dari selesai, prospek dimulainya kembali perundingan telah meredakan kekhawatiran jangka pendek mengenai gangguan lebih lanjut terhadap pasokan minyak dan pelayaran melalui Selat Hormuz," ujar Analis Senior Pasar Capital.com, Daniela Hathorn.
Di sisi lain, kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan akan memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah itu berpotensi membuka front baru dalam konflik antara AS dan Iran serta meningkatkan ancaman terhadap pasokan energi dan perdagangan global di luar kawasan Teluk.
"Jika gencatan senjata tidak terwujud, Selat Hormuz tetap sebagian besar tertutup, dan ancaman Houthi terhadap pelayaran di Laut Merah semakin meningkat, maka risiko lonjakan signifikan harga minyak akan sangat besar," kata Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge León. Menurut León, sekitar 2,5 juta barel minyak Arab Saudi per hari berada dalam risiko akibat ancaman dari Houthi.
Meski demikian, analis Kpler mencatat rekor volume minyak mentah yang masih berada di atas kapal, diperkirakan mencapai sekitar 1,35 miliar barel, yang dapat membatasi kenaikan harga minyak pada fase berikutnya. Runtuhnya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan energi yang melintasi Selat Hormuz. Sebelum konflik pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur tersebut. Iran juga disebut telah mendesak Houthi untuk menutup jalur pelayaran di Laut Merah apabila AS menyerang infrastruktur energi Iran.
Artikel Terkait
AS Kehabisan Rudal untuk Perang Besar dengan Iran, Pejabat Peringatkan
AS Imbau Warga di Seluruh Dunia Tingkatkan Kewaspadaan Imbas Konflik dengan Iran
Trump Ancam Lanjutkan Serangan ke Iran, Klaim Demi Hormati Tentara AS
Menlu Iran Tepis Klaim AS: Kami Bukan Venezuela, Sistem Kekuasaan Kami Berbeda