Namun begitu, ada satu hal yang ia tekankan sebagai prioritas utama: biodiesel. Program campuran biosolar ini, yang tahun ini dinaikkan mandatorinya menjadi B50, dianggapnya sebagai kunci.
"Tapi yang lebih utama dari kelapa sawit, kita bisa bikin solar," jelasnya.
Dengan biodiesel, Indonesia bisa terbebas dari ketergantungan impor bahan bakar. Rakyat yang membutuhkan pun tetap bisa mengakses solar dengan harga terjangkau berkat subsidi. "Yang mau pakai bensin terus, silakan. Ya orang kaya bayar aja, nggak apa-apa, harga dunia. Tapi rakyat kita bisa hidup dengan solar," papar Prabowo.
Tak berhenti di situ, rencananya bahkan lebih jauh lagi. Prabowo berniat membatasi ekspor limbah kelapa sawit, yaitu minyak jelantah. Limbah ini ternyata bisa diolah menjadi bahan baku avtur atau bahan bakar pesawat.
"Kita nanti produsen avtur. Bisa yang terbesar di dunia," ujarnya penuh keyakinan.
Karena itu, ekspor jelantah akan ia larang. "Maaf bangsa-bangsa lain, saya tutup. Saya larang ekspor limbah kelapa sawit. Ekspor jelantah. Harus untuk kepentingan rakyat di Indonesia dulu," tegas Presiden. Langkah ini, baginya, adalah bagian dari memastikan manfaat 'tanaman ajaib' itu benar-benar dirasakan di dalam negeri terlebih dahulu.
Artikel Terkait
Prabowo Gencar Gentengisasi, Usir Atap Seng Berkarat dalam 3 Tahun
BEI dan OJK Gelar Pertemuan Darurat dengan MSCI, IHSG Anjlok 464 Poin
Prabowo Usung Gerakan Gentengisasi untuk Ganti Atap Seng di Seluruh Indonesia
Tabungan Motion Bonus: Langsung Dapat Rp50 Ribu dan Bebas Transfer 100 Kali