“Andil utama peningkatan ekspor disumbang oleh sektor industri pengolahan sebesar 10,77 persen,” tambah Ateng, menegaskan peran vital manufaktur.
Lalu, impor?
Namun begitu, nilai impor juga ikut naik. Ini wajar seiring dengan pemulihan aktivitas ekonomi. Pada Desember 2025, impor Indonesia mencapai USD 23,83 miliar naik 10,81 persen.
Rinciannya, impor nonmigas naik signifikan 12,46 persen menjadi USD 20,48 miliar. Sementara impor migas relatif stabil, hanya naik tipis 1,71 persen menjadi USD 3,35 miliar.
Kalau dilihat setahun penuh, kenaikan impor lebih terkendali, yaitu sebesar 2,83 persen. Nilainya bergerak dari USD 235,20 miliar di 2024, menjadi USD 241,86 miliar di 2025. Artinya, surplus yang besar tadi bukan karena impor yang jatuh, melainkan benar-benar didorong ekspor yang lebih kuat.
Jadi, secara garis besar, kinerja perdagangan kita di penghujung 2025 tetap solid. Tren surplus yang panjang ini tentu jadi modal penting, meski tetap perlu diwaspadai gejolak harga komoditas dan perlambatan permintaan global ke depan.
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak