Awal pekan ini, sorotan kembali tertuju pada IHSG. Indeks saham kita itu baru saja melewati pekan yang cukup menegangkan di akhir Januari, dengan fluktuasi yang bikin deg-degan. Bahkan sempat terjadi trading halt dua kali! Banyak yang khawatir, jangan-jangan stabilitas bursa sedang goyah. Tapi, pemerintah punya pandangan lain. Menurut mereka, sistemnya tetap kokoh, jadi tak perlu panik berlebihan.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara. Ia meyakini, kekhawatiran yang melanda pasar lebih banyak dipicu sentimen psikologis. Bukan karena fundamental ekonomi yang bobrok.
"Kenapa orang takut? Mereka takut adanya ada kekacauan di manajemen bursa ketika di bawah mundur. Tapi kan dengan sistemnya sudah cukup baik ada sistem otomatis yang langsung bisa menggantikan direktur yang ada dari direksi yang ada, dengan cepat dan itu berjalan dengan baik, itu membuktikan sistemnya sudah cukup baik," kata Purbaya di Wisma Danantara, Sabtu (31/1).
"Jadi nggak akan ada gangguan di Bursa. Kalau udah gitu mereka akan lihat fundamental, kan fundamental ekonominya bagus, saya perbaiki terus akan perbaiki terus ke depan," imbuhnya.
Intinya, sistem di BEI sudah otomatis. Jadi, pergantian kepemimpinan atau masalah manajemen internal takkan serta-merta menghentikan roda perdagangan. Mekanisme penggantinya berjalan cepat, begitu menurutnya. Kepanikan yang muncul dianggapnya cuma asumsi belaka.
Di sisi lain, Purbaya tetap optimis dengan prospek ekonomi domestik. Pemerintah terus mendorong perbaikan kinerja, dengan target pertumbuhan yang digenjot mendekati angka 6 persen tahun ini. Kalau target itu tercapai, tentu dampak positifnya akan terasa juga di pasar modal.
Ditanya soal peluang penguatan IHSG ke depan, jawabannya lugas dan penuh keyakinan. "Enggak (merah) pasti naik lah pasti naik," tegasnya.
Menariknya, ia justru melihat posisi saat ini sebagai pintu masuk. Dalam siklus bisnis, penurunan tajam seringkali diikuti pemulihan yang kuat. Jadi, ruang untuk rebound masih terbuka lebar, asalkan fundamentalnya tetap terjaga. Memang, risiko selalu mungkin ada. Tapi Purbaya menilai peluangnya kecil, mengingat respons kebijakan yang cepat dan fondasi ekonomi yang dinilainya masih bagus.
"Kalau peluang, kemungkinan selalu ada cuma berapa peluangnya, saya pikir peluangnya kecil, fondasi bagus," ungkapnya.
Lalu, bagaimana data sebenarnya? BEI melaporkan, pada pekan 26-30 Januari 2026, IHSG ditutup di level 8.329,606. Angka itu mencerminkan penurunan 7,37 persen dari pekan sebelumnya. Tekanan jual benar-benar terasa, bahkan memicu pembekuan perdagangan sementara ketika indeks anjlok 8 persen pada Rabu, dan kembali terpuruk 8 persen lagi keesokan harinya.
Kapitalisasi pasar pun ikut menyusut 7,37 persen. Namun, ada sisi menarik dari aktivitas perdagangannya. Justru terjadi peningkatan. Rata-rata frekuensi transaksi harian naik, nilai transaksi harian malah melonjak signifikan 29,28 persen, dan volume harian juga tinggi. Ini menunjukkan aktivitas yang sangat sibuk di tengah gejolak.
Sayangnya, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih. Pada hari terakhir pekan itu saja, mereka melepas saham senilai Rp 1,53 triliun. Secara akumulatif tahun berjalan, pelepasan asing sudah mencapai Rp 9,88 triliun. Data ini tentu menjadi catatan tersendiri di balik optimisme yang coba dibangun.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020