Sembilan sekolah di Amerika Serikat akan dijaga oleh drone anti-penembak massal sepanjang tahun ini. Drone bernama Black Arrow tersebut mampu melesat di dalam koridor, menembus kaca jendela, menyemprotkan merica, hingga menabrak pelaku.
Drone Black Arrow dikembangkan oleh startup teknologi asal AS, Mithril Defense. Tiga sekolah di Florida, lima sekolah di Georgia, dan satu sekolah di Colorado menjadi yang pertama mengadopsi teknologi ini melalui program keamanan sekolah Campus Guardian Angel senilai lebih dari 500 ribu dolar AS.
Sekolah harus mengeluarkan biaya operasional sekitar 8 dolar AS per siswa setiap bulan. Drone ditempatkan dalam kotak khusus di langit-langit gedung dan dapat diaktifkan oleh guru ketika muncul laporan mengenai penembak aktif. Setelah diaktifkan, pilot profesional akan mengendalikan drone dari kantor pusat Mithril Defense di Austin, Texas.
Pilot mengoperasikan Black Arrow menggunakan pemetaan 3D yang dibangun dengan teknologi mesin game Fortnite. Sistem tersebut membantu pilot menavigasi koridor, ruangan, pintu, dan bagian lain di dalam sekolah dari jarak jauh.
Drone dapat melesat hingga 160 kilometer per jam di area terbuka. Dalam situasi darurat, Black Arrow dirancang untuk mengalihkan perhatian dan menghambat pelaku menggunakan lampu strobo, sirene, serta semprotan merica.
Perangkat ini juga dapat menabrak pelaku dengan kecepatan tinggi. Badannya yang terbuat dari logam dan plastik mampu menembus kaca jendela untuk memasuki ruangan yang sulit dijangkau.
"Kami bisa mengambil setiap sudut dan membuka setiap pintu terlebih dahulu karena kami tidak takut tertembak, kami hanyalah logam dan plastik," ujar Christian Van Sloun, Kepala Pilot Drone Mithril Defense, mengutip The Wall Street Journal (WSJ).
Black Arrow memiliki waktu terbang sekitar 10 hingga 15 menit. Drone beroperasi dalam kelompok yang terdiri dari tiga unit dan menggunakan koneksi terenkripsi.
Mithril Defense tetap meneruskan setiap laporan darurat kepada pihak berwenang. Kehadiran drone ditujukan untuk menghambat pelaku sebelum polisi atau petugas keamanan sekolah tiba di lokasi.
"Ini adalah hal yang revolusioner. Ini adalah masa depan," kata Kapten Todd Smith dari Kantor Sheriff Volusia County yang mengawasi keamanan di Deltona High School, Florida.
Mithril Defense berdiri pada 2023. Perusahaan kemudian membentuk Campus Guardian Angel pada 2025 untuk menyediakan sistem respons darurat dan keamanan di lingkungan sekolah.
Perdebatan etika dan efektivitas anggaran sekolah
Meskipun menawarkan perlindungan instan, inovasi ini memicu kritik keras dari para pakar privasi dan hukum. Sejumlah pihak mengkhawatirkan risiko serangan siber, potensi penggunaan kekerasan berlebihan, hingga pengalihan anggaran dari penanganan masalah utama siswa.
"Kita sedang menghadapi krisis kesehatan mental yang nyata di sekolah, dan kita seharusnya menggunakan uang tersebut untuk mengatasi masalah itu," tegas Barry Friedman, Profesor Hukum dan Pakar Kepolisian dari New York University, dalam WSJ.
Analis Kebijakan Senior dari American Civil Liberties Union (ACLU), Jay Stanley, turut mengkritik bahaya penggunaan kekerasan jarak jauh yang berpotensi berlebihan. Namun, pimpinan perusahaan menegaskan bahwa unit drone hanya akan meluncur pada situasi penembak aktif (active shooter).
"Visi kami pada akhirnya adalah hadir di setiap sekolah di negara ini dan membasmi penembakan massal," ungkap Justin Marston, Co-founder Mithril Defense.
Meskipun menimbulkan perdebatan sengit, beberapa orang tua murid mengapresiasi langkah preventif ini. Jessica Clayton, salah satu orang tua siswa di Deltona High School, berharap program uji coba tersebut dapat menjadi langkah awal yang positif demi menjamin keselamatan anak-anak di lingkungan sekolah.
"Mengetahui bahwa kami menjadi salah satu yang pertama mendapatkan program uji coba ini awalnya cukup menegangkan. Namun di saat yang sama, kita harus memulai dari suatu tempat, dan saya berharap ini bisa memberikan pengaruh positif bagi masyarakat," katanya.