Bahan Pangan vs Gaya Hidup: Mengapa Kenaikan Harga Ayam Lebih Memicu Keresahan daripada Kopi

- Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:01 WIB
Bahan Pangan vs Gaya Hidup: Mengapa Kenaikan Harga Ayam Lebih Memicu Keresahan daripada Kopi

Perdebatan di media sosial baru-baru ini memicu pertanyaan mendasar: mengapa kenaikan harga ayam 56 ribu rupiah membuat warga ramai, sementara kopi 40 ribu rupiah di kafe diterima tanpa banyak protes? Seorang warganet dengan tegas menyebut perbandingan itu tidak adil, karena ayam adalah kebutuhan pangan pokok, sedangkan kopi hanyalah kebutuhan tersier yang subjektif.

"Jangan bandingin ayam 56rb, kopi 40rb. Ayam tuh bahan pangan, kopi itu objek tersier dan subjektif. Kalo ayam sbg pangan harganya naik, wajar warga marah. Coba kacamatanya diubah, turun ke bawah liat orang jualan pada sepi dan bangkrut," tulis akun @eveedesu di Threads.

Tanggapan ini menyoroti perbedaan fundamental antara kebutuhan pokok dan gaya hidup. Ayam merupakan sumber protein utama bagi sebagian besar keluarga Indonesia. Harganya yang naik langsung berdampak pada gizi anak-anak dan kemampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, kopi di kafe adalah pilihan, bukan keharusan. Jika harganya mahal, orang bisa beralih ke kopi saset atau bahkan air putih tanpa mengorbankan kesehatan.

Dampak Berbeda pada Masyarakat

Kenaikan harga bahan pokok seperti ayam tidak hanya memberatkan konsumen, tetapi juga memicu efek domino pada sektor usaha kecil. Warung nasi dan pedagang kaki lima yang mengandalkan margin tipis terpukul karena biaya bahan baku melonjak. Akibatnya, inflasi riil terjadi dan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah semakin tertekan.

Perbandingan antara kopi mahal dan ayam mahal sering kali mengabaikan realitas ekonomi yang dihadapi banyak orang. Keresahan warga terhadap harga ayam bukanlah sekadar keluhan tanpa dasar, melainkan cerminan kekhawatiran akan kemampuan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Saat perut sudah terisi, secangkir kopi mungkin bisa ditunda, tetapi tidak demikian halnya dengan lauk pauk di meja makan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags