Dua Dekade Mengabdi, Asep Saksikan Perubahan Besar di Lapas Garut

- Jumat, 21 Agustus 2026 | 20:25 WIB
Dua Dekade Mengabdi, Asep Saksikan Perubahan Besar di Lapas Garut

Setelah 21 tahun mengabdi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut, Asep Supriatna telah menyaksikan berbagai perubahan signifikan dalam sistem pemasyarakatan di Indonesia. Pria yang kini menjabat sebagai Kepala Seksi Kegiatan Kerja ini mengawali kariernya pada 2005 sebagai perawat bagi warga binaan, dan sejak saat itu ia terus mengikuti dinamika pembinaan narapidana dari masa ke masa.

Ketika pertama kali bertugas, Asep mengingat bahwa fokus utama pemasyarakatan masih pada pengamanan. Meskipun pembinaan sudah ada, namun lebih ditekankan pada aspek kepribadian, sementara pembinaan kemandirian belum terlalu menonjol. "Yang saya tahu Pemasyarakatan saat itu hanya berfokus pada pengamanan warga binaan saja. Meskipun sisi pembinaannya ada, tapi lebih menonjol itu di bidang pembinaan kepribadiannya. Kalau untuk kemandiriannya seperti sekarang tidak terlalu menonjol," ujarnya saat ditemui di Lapas Garut, Jawa Barat, Rabu (19/8/2026).

Perubahan mulai terasa sekitar tahun 2010, ketika Asep masih bertugas di bidang kesehatan. Menurutnya, kerja sama antara Kementerian Kesehatan, Kementerian Hukum dan HAM, serta Kementerian Sosial terkait pelayanan kesehatan di lapas membawa perbaikan yang signifikan. Sebelumnya, layanan kesehatan bagi narapidana sangat terbatas karena kekurangan sumber daya manusia dan sarana prasarana. "Sebelum 2010 kekurangan SDM, kekurangan sarana prasarana sehingga pelayanan kesehatan di lembaga itu menurut saya sangat kurang. Pada saat itu kecepatan bertindak pun kita agak terlambat karena dokternya hanya bantuan dari puskesmas," tuturnya.

Setelah kerja sama tersebut berjalan, Lapas Garut mulai memiliki perawat kesehatan definitif. Warga binaan yang membutuhkan perawatan lanjutan juga lebih mudah mendapatkan layanan rumah sakit, termasuk dari sisi administrasi pembiayaan. "Kalau ada pasien yang perlu perawatan lanjut di rumah sakit, dalam hal administrasi alhamdulillah pelayanan semua bisa gratis," kata Asep. Bahkan, sejak sekitar 2022, Lapas Garut telah memiliki dokter sendiri.

Dari Perawat ke Kepala Seksi

Asep menghabiskan sekitar 15 tahun kariernya sebagai perawat di Lapas Garut. Pada 2018, ia diusulkan oleh Kepala Lapas saat itu untuk mengikuti open bidding sebagai bagian dari promosi jabatan Kepala Subseksi Kegiatan Kerja. Namun, ia sempat kembali ke bidang kesehatan setelah diusulkan menjadi Kepala Subseksi Keperawatan. Sekitar setahun kemudian, peningkatan kelas Lapas Garut menjadi Kelas IIA kembali membawanya mendapatkan promosi ke jabatannya yang sekarang.

Perubahan struktur kementerian kemudian ikut mengubah bidang yang ditanganinya. Asep menyebut kebijakan Asta Cita Presiden serta 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan menempatkan kegiatan kerja, ketahanan pangan, dan UMKM sebagai program prioritas. Perubahan ini terasa baginya karena ia pernah mengalami masa ketika kegiatan kerja warga binaan masih terbatas. "Sebelumnya kegiatan kerja di lapas itu hanya terfokus ke pelatihan. Adapun yang sifatnya kegiatan lainnya itu tidak terlalu signifikan seperti sekarang," terangnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags