Analogi Serangan Fajar ala Mahathir dan Isu Akuisisi Bayan: Terlalu Dipaksakan?

- Jumat, 21 Agustus 2026 | 13:00 WIB
Analogi Serangan Fajar ala Mahathir dan Isu Akuisisi Bayan: Terlalu Dipaksakan?

Pak Dahlan Iskan menganalogikan langkah Prabowo dengan manuver Mahathir Mohamad dalam 'Serangan Fajar' di London pada 1981. Namun, benarkah keduanya bisa disamakan? Jika ditelisik lebih dalam, banyak perbedaan mendasar yang membuat analogi itu terkesan dipaksakan.

Dalam 'Serangan Fajar', Mahathir membidik Guthrie Plantation, perkebunan Inggris terbesar di Malaysia yang menjadi simbol kolonialisme ekonomi. Melalui aksi itu, Malaysia berhasil merebut kembali 800 kilometer persegi tanah dari Inggris. Ini adalah perlawanan terhadap kekuatan asing yang telah berkuasa sejak era kolonial.

Sementara itu, isu yang beredar pekan lalu soal akuisisi 62,2 persen saham PT Bayan Resources (BYAN) oleh pengusaha lokal Kalimantan Selatan, Haji Isam, dari Low Tuck Kwong. Low Tuck Kwong sendiri sudah puluhan tahun menjadi pengusaha di Indonesia. Ini bukan melawan asing, melainkan perpindahan kepemilikan antar-sesama pengusaha dalam negeri. Jika benar terjadi, yang berubah hanyalah siapa yang duduk di kursi pemilik, bukan status kepemilikan nasionalnya.

Tujuan Mahathir jelas: nasionalisme ekonomi, mengambil alih aset strategis dari asing. Hasilnya, Guthrie, Golden Hope, dan Sime Darby digabung menjadi SD Guthrie Berhad, BUMN Malaysia yang profesional. Itu tentang membangun kekuatan ekonomi nasional. Sementara isu akuisisi Bayan ini terjadi di bawah rezim Danantara yang sedang mengonsolidasi aset negara dan sumber daya di bawah satu kendali. Ini bukan soal mengembalikan aset ke rakyat, tetapi mengatur ulang peta kekuasaan di antara para loyalis.

Di sisi lain, Mahathir menggunakan profesional perbankan, seperti Tun Ismail Mohamad Ali (Gubernur Bank Sentral Malaysia) dan Abdul Khaled Ibrahim (CEO BUMN Malaysia). Mereka merancang serangan di London dengan perhitungan matang dan eksekusi profesional. Sementara dalam isu akuisisi Bayan, tidak ada tokoh profesional yang disebut-sebut sebagai pelaksana. Isu ini beredar setelah muncul foto pertemuan antara Haji Isam dan Low Tuck Kwong. Manajemen BYAN dan Jhonlin Group bahkan telah membantah adanya rencana akuisisi. Jadi, ini masih sebatas rumor, bukan fakta terkonfirmasi. Namun, yang menarik, rumor ini saja sudah cukup membuat harga saham BYAN melonjak 19,97 persen dalam sehari.

Pak Dahlan benar dalam satu hal: dua peristiwa ini sama-sama 'kilat' dan 'mendadak'. Tetapi, di situ saja akhir persamaannya. Mahathir merebut dari Inggris untuk rakyat Malaysia. Prabowo, jika ini benar, hanya memindahkan tambang dari satu taipan ke taipan lain yang lebih dekat dengan istana.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.