Sepanjang Januari hingga 15 Agustus 2026, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) mencatat telah melaksanakan 601 operasi SAR terkait kecelakaan kapal di seluruh Indonesia. Dari jumlah tersebut, tercatat 3.607 korban terdampak, dengan rincian 3.165 orang selamat, 239 meninggal dunia, dan 203 orang dinyatakan hilang.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengungkapkan data tersebut dalam rapat dengan Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (19/8). "Dari jumlah operasi yang kami laksanakan, adanya korban terdampak 3.607 korban, 3.165 diselamatkan dalam kondisi selamat, 239 dalam kondisi meninggal dunia, dan yang dinyatakan hilang berjumlah 203 orang," ujarnya.
Dari total korban, 220 orang merupakan warga negara asing (WNA). Adapun jenis kecelakaan yang ditangani beragam, mulai dari kapal bocor, mati mesin, hilang kontak, terbakar, hingga tenggelam. Kasus terbanyak adalah man over board atau orang jatuh dari kapal dengan 178 kejadian, disusul kapal mati mesin 103 kejadian, dan kapal hilang kontak 92 kejadian.
Komisi V Soroti Aspek Keselamatan
Ketua Komisi V DPR Lasarus menyoroti masih berulangnya persoalan keselamatan pelayaran. Dalam dua tahun terakhir, 2025-2026, tercatat setidaknya 12 kecelakaan pelayaran yang signifikan. Salah satunya adalah KMP Tunu Pradana Jaya yang mengalami kebocoran dan tenggelam pada 2 Juli 2025 di Selat Bali. Kapal tersebut diduga mengalami kelebihan muatan sangat besar, dengan kapasitas maksimal 138 ton namun muatan mencapai 538 ton.
Kasus lain yang menarik perhatian internasional adalah tenggelamnya KMP Tengis Sakinah di perairan Taman Nasional Komodo pada 26 Desember 2025. Kapal wisata yang disewa untuk perjalanan tiga hari dua malam itu tenggelam setelah dihantam gelombang tinggi. "Penyebabnya kompleks, mulai dari cuaca ekstrem, tidak adanya alat pengukur cuaca di Selat Padar, modifikasi badan kapal yang tidak sesuai spesifikasi, hingga kelalaian kru," jelas Lasarus. Tiga orang meninggal dunia, termasuk pelatih sepak bola asal Spanyol, Fernando Martin Ramirez, beserta anak-anaknya.
KM Barcelona 5 yang terbakar di perairan Palise, Sulawesi Utara, pada 20 Juni 2025 juga menjadi sorotan. Perbedaan mencolok antara data manifest resmi yang mencatat 280 penumpang dengan jumlah evakuasi yang mencapai lebih dari 570 orang memicu pertanyaan publik. Sementara itu, KM Dharma Kartika 9 mengalami kemiringan saat hendak bersandar di Pelabuhan Semayang, Balikpapan, pada 27 Januari 2026.
Kebakaran juga menimpa KM Anaya di perairan Maluku pada 26 Maret 2026 akibat ledakan ruang mesin, melukai lima anak buah kapal. Dua bulan kemudian, kapal yang sama dilaporkan mati mesin dan tenggelam di perairan Biaro, Sulawesi Utara. Kecelakaan lain melibatkan KM Sabuk Nusantara 106 yang menabrak bangunan penginapan dan kapal nelayan di Banda Neira, serta KM Mega Harapan yang terbelah dua setelah ditabrak kapal milik PT Pelni.
Di sisi lain, KLM Eternity tenggelam di sekitar Pulau Satonda, Nusa Tenggara Barat, pada 1 Agustus 2026 setelah diterjang gelombang tinggi. Seluruh 23 wisatawan asing dan tujuh ABK berhasil dievakuasi selamat. Namun, kecelakaan KMP Putri Yasmin yang terbakar di Selat Lombok pada 12 Agustus 2026 menyebabkan satu orang meninggal dunia dan 130 penumpang lainnya trauma.
Rapat Komisi V DPR juga membahas kecelakaan KMP Mutiara Sentosa II yang terbakar di perairan Sumenep, Jawa Timur, pada 2 Agustus 2026, menewaskan lima orang. KMP Prince Soya terbakar saat bersandar di Pelabuhan Samarinda pada 1 Agustus 2026, dan KMP Nurul Salsa tenggelam di perairan Kepulauan Selayar pada 15 Juli 2026 setelah mengalami mati mesin total dan cuaca ekstrem, mengakibatkan tiga orang meninggal dan 17 orang hilang.
Lasarus menegaskan bahwa kecelakaan-kecelakaan tersebut menunjukkan persoalan berulang di sektor perhubungan laut. "Masalah di sektor perhubungan laut masih mengulang persoalan yang sama, antara lain ketidaklaikan laut kapal, pengabaian kapasitas muatan, sistem proteksi kebakaran yang bermasalah, hingga mitigasi keselamatan pelayaran yang tidak sistematik," pungkasnya.