Garis kuning polisi terpasang di rumah Susanah, seorang pengupas bawang yang disebut-sebut oleh Prabowo Subianto menerima upah Rp700 ribu per kilogram. Namun, garis itu bukan untuk menandai tempat kejadian perkara kriminal, melainkan untuk melindungi Susanah dari serbuan wartawan dan warganet yang datang lebih dulu sebelum mengetahui cerita sebenarnya.
Pernyataan Prabowo yang mengklaim upah tersebut langsung memicu riuh publik. Sebagian orang memuji program pemerintah, sebagian lagi meragukan dan menyebutnya tidak masuk akal. Padahal, belum ada satu pun yang datang ke rumah Susanah atau bertanya langsung kepadanya. Tetangganya, Iis Isnawati, menegaskan tidak ada warga RT 01 yang bekerja mengupas bawang. Anak Susanah pun mengatakan ibunya bekerja sebagai penjahit dan membuat kain majun dari limbah perca, serta mencuci ompreng di SPPG.
Banyak orang mati-matian membela, banyak pula yang sibuk menghujat, tetapi tidak ada yang sabar menunggu data lengkap. Ironisnya, garis polisi yang biasanya menandai tempat kejadian perkara kejahatan, kali ini menandai sesuatu yang lain: tempat kebingungan kolektif, di mana bangsa ini ribut lebih dulu sebelum mencari fakta.
Pertanyaan yang muncul kemudian: drama apa yang sesungguhnya terjadi di balik layar negeri ini? Mengapa berita blunder berulang kali terjadi? Apakah ada skenario besar untuk mempermalukan? Siapa yang melakukannya dan apa tujuannya?
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Dijadwalkan Tinjau NTT Usai Gempa Magnitudo 7,7
Amien Rais: Prabowo Gagal Taklukkan Oligarki
Mensesneg Sebut Pengibaran Foto Prabowo oleh Kopassus Bentuk Kebanggaan Prajurit
Keluarga Klarifikasi Pekerjaan Susanah yang Disebut Prabowo sebagai Pengupas Bawang