Hujan yang dinanti-nantikan akhirnya turun pada Senin (16/08), memberi sedikit kelegaan bagi sekitar 500 petugas pemadam kebakaran dan tim darurat yang telah berjibaku selama empat hari melawan kebakaran hutan terparah yang melanda Belgia dalam satu abad terakhir. Kebakaran ini telah menghanguskan kawasan alam lindung yang luas di dekat perbatasan Jerman.
Api pertama kali muncul pada Jumat (14/08) di kawasan High Fens, sebuah kawasan lindung yang dipenuhi lahan gambut berawa, hutan pinus, dan jalur pendakian. Hingga kini, sekitar 3.000 hektar lahan telah hangus. Penyebab kebakaran masih belum diketahui.
Hujan turun, laju api mulai terkendali
Juru bicara manajemen krisis Tony Hosmans mengatakan kepada wartawan pada Senin bahwa api tidak lagi bergerak menuju perbatasan Jerman, setelah sebelumnya terus mendekat sepanjang akhir pekan dan memaksa evakuasi di kota perbatasan Monschau. "Angin bersahabat dan curah hujan saat ini membantu menahan penyebaran api," kata Hosmans. "Saat ini, kebakaran sudah dapat dikendalikan di mana pun intervensi memungkinkan," tambahnya, meski ia memperingatkan bahwa api belum sepenuhnya padam. Misi pengintaian udara dijadwalkan memberikan gambaran yang lebih lengkap pada sore hari. Hujan diperkirakan akan terus turun secara tidak menentu sepanjang pekan ini, menjadi angin segar bagi upaya pemadaman.
Medan berat jadi hambatan
Operasi di lapangan sangat terhambat oleh medan kawasan High Fens yang berat, dengan kombinasi semak belukar, rawa gambut, dan jalur kayu yang ditinggikan. Kendaraan berat berisiko terperosok ke dalam tanah, sementara petugas kesulitan memadamkan api dari jarak dekat. Operasi udara pun menjadi andalan utama. Dua pesawat pengebom air dari Swedia dan dua helikopter militer Chinook dari Belanda memperkuat dua helikopter Belgia yang sudah ada di lokasi. Pada Senin siang, dua helikopter dari Bundeswehr Jerman dijadwalkan tiba, dengan dua helikopter Norwegia menyusul pada malam harinya.
Petani-petani setempat juga turun tangan membantu, dengan iring-iringan traktor mengangkut tangki air dari danau terdekat untuk disiramkan ke area yang terdampak. "Kami menyediakan minuman dan makanan," kata Annick Dodemont, pemilik salah satu usaha lokal yang mendukung operasi pemadaman, kepada AFP. "Kami tidak bisa ikut ke sana, jadi kami membantu semampu kami," kata perempuan 41 tahun itu.
Evakuasi di Belgia dan Jerman
Di Belgia, sekitar 600 warga di beberapa bagian Waimes, Sourbrodt, dan Buetgenbach sebelumnya diperintahkan mengungsi karena angin yang berubah arah dan asap tebal menimbulkan kekhawatiran api bisa mencapai pemukiman. Wisatawan juga diimbau meninggalkan kawasan tersebut. Sebuah gedung olahraga di kota tetangga dibuka sebagai tempat pengungsian. Dua desa di Belgia masih dievakuasi akibat bahaya asap tebal yang menyelimuti kawasan perbatasan dan terdeteksi hingga ke Prancis timur, di mana otoritas setempat mengeluarkan peringatan polusi udara.
Sementara di Jerman, sekitar 30 warga dari 17 rumah di Monschau diperintahkan mengungsi pada Minggu malam sebagai tindakan pencegahan. Wakil Wali Kota Monschau Franz-Karl Boden mengatakan pada Senin bahwa tidak ada ekspektasi api akan menyebar ke wilayah Jerman. Monschau sendiri merupakan destinasi wisata populer di kawasan Eifel dengan sekitar 12.000 penduduk, yang dikenal dengan kawasan kota tua bergaya rumah kayu tradisionalnya.
Eropa yang terbakar
Kebakaran di Belgia bukan satu-satunya yang tengah melanda Eropa. Prancis, Yunani, Portugal, dan Spanyol juga berjuang memadamkan kebakaran besar sepanjang akhir pekan. Benua ini telah tersapu gelombang kebakaran dahsyat selama berminggu-minggu, dipicu oleh kondisi kering dan musim panas yang tercatat sebagai salah satu terpanas dalam sejarah, yang sudah menewaskan ribuan orang.
Belgia sendiri baru saja mengalami periode panas ekstrem, dengan suhu mencapai 37 derajat Celsius di beberapa bagian negara itu pada Jumat, menciptakan kondisi yang sangat kondusif bagi kebakaran hutan. Para ilmuwan menyebut perubahan iklim akibat ulah manusia kian meningkatkan kemungkinan kondisi panas dan kering yang memungkinkan kebakaran hutan menyebar lebih cepat dan membara lebih lama. Kebakaran di High Fens kali ini pecah di area yang pernah dilanda kebakaran besar pada 1911, saat periode gelombang panas dan kekeringan serupa melanda.
Komisioner Eropa Hadja Lahbib menyebut kebakaran ini sebagai tanda terbaru dari "gejolak iklim" yang melanda benua tersebut. "Belum pernah sebelumnya musim kebakaran dimulai sepagi ini dalam setahun dan mencapai lintang utara yang sejauh ini," katanya.