Membangun Hunian Berkelanjutan: Kota Baru Parahyangan dan Perubahan Kebutuhan Konsumen

- Senin, 17 Agustus 2026 | 15:48 WIB
Membangun Hunian Berkelanjutan: Kota Baru Parahyangan dan Perubahan Kebutuhan Konsumen

Memiliki rumah masih menjadi tujuan besar bagi banyak orang. Namun, kebutuhan konsumen yang semakin beragam membuat rumah tidak lagi dinilai hanya dari luas bangunan, jumlah kamar, atau desain semata. Lingkungan di sekitar hunian kini ikut menentukan keputusan, mulai dari akses menuju tempat kerja, sekolah, fasilitas kesehatan, ruang terbuka, hingga kesempatan untuk bersosialisasi.

Perubahan cara pandang ini turut menggeser pengembangan kawasan hunian. Konsep kota mandiri, misalnya, tidak lagi sekadar menawarkan kawasan dengan berbagai fasilitas, tetapi juga berusaha membangun ekosistem yang dapat terus berkembang mengikuti kebutuhan penghuninya.

Hal tersebut menjadi perhatian Kota Baru Parahyangan (KBP), kawasan yang telah dikembangkan selama 26 tahun. Sejak awal, kawasan ini mengusung konsep budaya, sejarah, dan pendidikan. Seiring perkembangan kawasan dan penghuninya, konsep itu kemudian berkembang menjadi mandiri, madani, dan alami.

Direktur Kota Baru Parahyangan, Ryan Brasali, menegaskan bahwa perkembangan sebuah kota seharusnya tidak berhenti ketika pembangunan fisiknya selesai.

“Yang pertama, kota itu harus semakin lama semakin baik. Jadi banyak developer yang misalnya karena tanahnya habis, ya sudah ditinggal. Kalau di sini karena jangka panjang, satu, keberlanjutan, makin lama harus makin baik,” ujar Ryan kepada kumparan.

Mengikuti Perubahan Konsumen

Salah satu tantangan dalam bisnis properti saat ini adalah menghadapi konsumen dari berbagai generasi dengan kebutuhan yang berbeda. Marketing Manager Kota Baru Parahyangan, Joseph Ijong Dachlan, mengatakan, KBP saat ini telah melayani konsumen mulai dari generasi baby boomer, X, Y (milenial), hingga generasi Z.

Menurutnya, generasi milenial dan Z memiliki karakter yang berbeda. Generasi milenial cenderung aspiratif dalam memiliki rumah, sementara generasi Z lebih kritis dalam melihat nilai yang ditawarkan sebuah hunian.

“Kalau generasi Z itu mereka lebih cenderung lebih kritis, lebih punya nilai, punya value apa yang bisa mendukung gaya hidup mereka yang hari ini masih sangat produktif dan mobilitas tinggi,” kata Ijong.

Perubahan tersebut membuat pengembang perlu memahami konsumen sebelum menentukan produk yang akan ditawarkan. “Tantangan yang terbesar adalah psikografis tiap-tiap generasi ini berubah. Jadi yang paling penting, kami sebagai garda depan atau yang memasarkan, kami harus menyimpan kaki kami di sepatu mereka istilahnya,” ujarnya.

Pendekatan itu kemudian diterjemahkan dalam berbagai aspek pengembangan kawasan, mulai dari tipe rumah, tata kawasan, hingga ruang komunal. Setiap pengembangan juga diarahkan untuk menyasar kebutuhan segmen tertentu. “Sehingga apa yang kita luncurkan itu resonate dengan calon pembeli,” katanya.

Hunian sebagai Ekosistem, Bukan Hanya Tempat Tinggal

Perubahan kebutuhan konsumen juga membuat ruang di luar rumah menjadi semakin penting. Taman, pedestrian, dan jalur sepeda, misalnya, tidak seharusnya hanya menjadi elemen estetika. Ruang tersebut harus bisa membuat masyarakat keluar dari rumah, bergerak, dan berinteraksi.

“Kita nggak mau sebatas bahwa itu hanya indah di dalam foto. Artinya tempat-tempat itu bisa mengakomodir kegiatan masyarakatnya,” ujar Ryan.

Konsep tersebut juga berkaitan dengan upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat. Itulah sebabnya, 50 persen kawasan KBP dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau, baik berupa taman maupun area alami. “Ruang hijau itu sebetulnya adalah paru-paru atau kesehatan yang bisa buat stakeholder yang ada di sini, baik pengunjung,” ungkap Ijong.

Di sisi lain, ruang komunal juga membuka peluang interaksi antarpenghuni. Aktivitas bersama lintas tatar atau klaster bisa menjadi salah satu cara membangun hubungan sosial yang sehat di kawasan. Bagi Kota Baru Parahyangan, keberlanjutan kawasan tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan bisnis, tetapi juga memastikan warganya memiliki peran dalam membuat sebuah kota terus berkembang.

“Warga itu bukan sebagai objek, tapi subjek,” kata Ryan. Karena itu, konsep mandiri, madani, alami tidak hanya diterjemahkan melalui pembangunan fisik. Ada pula upaya mendorong masyarakat untuk aktif dalam kehidupan kawasan, termasuk menjaga lingkungan dan membangun interaksi sosial.

Pada akhirnya, tantangan pengembang bukan lagi sekadar bagaimana menjual rumah, tetapi bagaimana membangun lingkungan yang tetap relevan ketika kebutuhan penghuninya berubah. Ukuran keberhasilan sebuah kota justru terletak pada kemampuannya untuk terus bertumbuh bersama masyarakat yang tinggal di dalamnya.

“Kalau mandiri, madani, alami, dikaitkan ke tema sustainability, maka mandiri itu melambangkan prosperity, madani melambangkan people, sedangkan, kalau alami itu melambangkan planet. Jadi kita rawat bersama dengan semangat berkelanjutan,” tutup Ijong.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terpopuler